Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Produksi CPO Bakal Susut, Dewan Minyak Sawit: Genjot Replanting!

Dewan Minyak Sawit Indonesia mengusulkan pemerintah mengoptimalkan replanting untuk mengatasi produksi CPO yang bakal susut.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 29 Oktober 2021  |  11:14 WIB
Ilustrasi kebun sawit.  - Sinar Mas Agribusiness
Ilustrasi kebun sawit. - Sinar Mas Agribusiness

Bisnis.com, JAKARTA — Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Sahat Sinaga meminta pemerintah untuk mengoptimalkan program peremajaan tanaman kelapa sawit atau replanting menyusul laporan penurunan produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) hingga 1,5 juta ton pada paruh kedua tahun ini.

Adapun laporan itu berasal dari survei Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia atau Gapki pada panen puncak kebun sawit pada September hingga Oktober tahun ini.

“Ini kalau begini terus kita akan mengalami kesulitan, maka yang paling perlu dilakukan itu replanting untuk penanaman pohon-pohon yang tidak produktif yang tua itu agar segera dilakukan karena sekarang jalannya lamban,” kata Sahat kepada Bisnis.com, Kamis (28/10/2021).

Sahat menerangkan optimalisasi peremajaan tanaman kelapa sawit itu dapat dilakukan dengan menata kembali sertifikat kebun sawit di kawasan hutan kepada petani. Dengan sertifikat itu, petani dinilai dapat menerima kemudahan akses dana untuk melakukan peremajaan sawit.

“Sebelum ada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan [KLHK] mereka sudah cocok tanam di sawit kenapa bisa jadi kawasan hutan? Sekarang dilepas saja kebun-kebun sawit yang dikatakan dalam kawasan hutan itu ditata kembali,” kata dia.

Berdasarkan data milik DMSI, luas kebun sawit rakyat mencapai 6,72 juta hektare. Sementara itu 75 persen dari luas lahan itu perlu dilakukan peremajaan tanaman kelapa sawit. Adapun produksi rata-rata seluruh kebun hanya mencapai 9,2 ton tandan buah sawit (TBS) per hektar setiap tahunnya.

“Yang masuk kategori hutan berikan sertifikat, supaya replanting untuk meningkatkan produktivitas dari 9,2 ton per hektar tiap tahun menjadi 22 ton jadi bayangkan berapa banyak itu, kan rakyat jadi makmur,” kata dia.

Sebelumnya, Gapki memprediksi target ekspor tahun ini bakal turun signifikan dibanding tahun lalu akibat turunnya produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) pada puncak panen dua bulan terakhir.

Ketua Umum Gapki Joko Supriyono mengatakan asosiasinya mematok target ekspor hingga akhir tahun ini mencapai 35 juta metrik ton atau ditingkatkan dari torehan tahun lalu yang mencapai 34 juta metrik ton. Hanya saja, target ekspor tahun ini diperkirakan merosot dari target yang ditetapkan lantaran potensi turunnya volume produksi CPO pada puncak panen sebesar 1,5 juta ton.

“Target ekspornya 49 juta ton, kita khawatir jangan-jangan tidak tercapai. Kalau produksi bulan September sampai Oktober [puncak panen] itu turun atau mendatar berarti ya kita ekspor sama dengan tahun lalu atau turun sedikit,” kata Joko melalui sambungan telepon kepada Bisnis, Kamis (28/10/2021).

Di sisi lain, Joko mengatakan, realisasi ekspor CPO pada paruh pertama tahun ini relatif baik jika dibandingkan dengan tahun lalu. Malahan, Joko menambahkan, hingga Agustus 2021 torehan ekspor CPO sudah naik sebesar 6 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Joko menambahkan turunnya target ekspor CPO tahun ini juga disebabkan karena fokus utama komoditas strategis itu bakal diarahkan terlebih dahulu untuk memenuhi pasokan kebutuhan hilir dalam negeri.

“Kalau produksi turun kan biasanya diutamakan dalam negeri dulu, pasti itu untuk kebutuhan pangan karena sifatnya mandatory, baru ekspor. Kalau tidak ada barang apa yang mau diekspor,” kata dia.

Berdasarkan laporan yang diterima Gapki, potensi anjloknya produksi CPO pada saat panen puncak itu disebabkan karena tidak optimalnya masa tanam pada tahun 2019. Saat itu petani memilih untuk tidak memberi pupuk karena harga komoditas yang murah. Selain itu juga terjadi musim kemarau yang berkepanjangan.

“Kalau kering itu pengaruhnya sampai 2 tahun, lalu di awal tahun ini ada La Nina yang juga katanya berpengaruh. Tetapi kalau tahun berikutnya juga turun berarti ada faktor fundamental lain yang sedang kita amati,” tuturnya.

Berdasarkan data milik Gapki, total produksi industri minyak sawit hingga Agustus 2021 mencapai 33,57 juta ton. Perinciannya, produksi CPO menyentuh di angka 30,676 juta ton sementara CPKO mencapai 2,89 juta ton. Di sisi lain, total konsumsi dari bahan baku itu mencapai 12,25 juta dan torehan ekspor mencapai 22,79 juta ton.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

cpo minyak sawit
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper

BisnisRegional

To top