Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kemendag Yakin Ekspor CPO Akhir 2021 Tetap Moncer

Kemendag yakin ekspor CPO akhir 2021 tetap moncer kendati adanya penurunan volume produksi .
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 29 Oktober 2021  |  10:59 WIB
Kemendag Yakin Ekspor CPO Akhir 2021 Tetap Moncer
Minyak sawit - Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perdagangan (Kemendag) memastikan kinerja ekspor produk minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) hingga akhir 2021 tetap moncer. Kendati, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia atau Gapki melaporkan adanya penurunan volume produksi mencapai 1,5 juta ton pada puncak panen dua bulan terakhir.

Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan Kementerian Perdagangan Asep Asmara berasalan hal itu disebabkan harga CPO di pasar internasional masih menunjukkan tren yang tinggi untuk waktu yang lama.

“Diperkirakan nilai ekspor CPO dan produk turunannya sampai akhir 2021 akan naik cukup signifikan mengingat masih ada sisa waktu 4 bulan yang belum tercatat,” kata Asep melalui keterangan tertulis, Kamis (28/10/2021).

Berdasarkan data yang diolah otoritas perdagangan, volume ekspor CPO dan produk hilirnya mencapai 27,42 juta ton atau naik sebesar 12,54 persen selama Januari hingga Agustus 2021 dibandingkan dengan tahun lalu pada periode yang sama sebesar 24,36 juta ton.

Di sisi lain, nilai ekspor selama Januari hingga Agustus 2021 sebesar US$22,31 miliar atau mengalami kenaikan yang signifikan sebesar 75,65 persen dibanding tahun lalu yang berada di angka US$12,70 miliar.

“Nilai ekspor CPO dan produk turunannya untuk Periode Januari hingga Agustus 2021 sebesar US$22,311 miliar telah melampaui nilai ekspor pada tahun 2020 secara keseluruhan [Januari – Desember] sebesar US$21,635 miliar,” kata dia.

Dengan demikian, dia menegaskan, nilai ekspor CPO dan produk hilirnya bakal tetap mengalami kenaikan yang signifikan. Alasannya, harga CPO di pasar internasional itu ikut menggerek nilai ekspor dalam negeri kendati volume produk yang relatif turun jika dibandingkan dengan tahun lalu.

“Namun demikian untuk volume ekspor CPO dan produk turunannya untuk periode Januari hingga Agustus 2021 sebesar 27,42 juta metrik ton masih jauh dibanding ekspor tahun 2020 secara keseluruhan [Januari sampai Desember] yang mencapai 38,935 juta metrik ton,” tuturnya.

Sebelumnya, Gapki memprediksi target ekspor tahun ini bakal turun signifikan dibanding tahun lalu akibat turunnya produksi CPO pada puncak panen dua bulan terakhir.

Ketua Umum Gapki Joko Supriyono mengatakan asosiasinya mematok target ekspor hingga akhir tahun ini mencapai 35 juta metrik ton atau ditingkatkan dari torehan tahun lalu yang mencapai 34 juta metrik ton. Hanya saja, target ekspor tahun ini diperkirakan merosot dari target yang ditetapkan lantaran potensi turunnya volume produksi CPO pada puncak panen sebesar 1,5 juta ton.

“Target ekspornya 49 juta ton, kita khawatir jangan-jangan tidak tercapai. Kalau produksi bulan September sampai Oktober [puncak panen] itu turun atau mendatar berarti ya kita ekspor sama dengan tahun lalu atau turun sedikit,” kata Joko, Kamis (28/10/2021).

Di sisi lain, Joko mengatakan, realisasi ekspor CPO pada paruh pertama tahun ini relatif baik jika dibandingkan dengan tahun lalu. Malahan, Joko menambahkan, hingga Agustus 2021 torehan ekspor CPO sudah naik sebesar 6 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Joko menambahkan turunnya target ekspor CPO tahun ini juga disebabkan karena fokus utama komoditas strategis itu bakal diarahkan terlebih dahulu untuk memenuhi pasokan kebutuhan hilir dalam negeri.

“Kalau produksi turun kan biasanya diutamakan dalam negeri dulu, pasti itu untuk kebutuhan pangan karena sifatnya mandatory, baru ekspor. Kalau tidak ada barang apa yang mau diekspor,” kata dia.

Berdasarkan laporan yang diterima Gapki, potensi anjloknya produksi CPO pada saat panen puncak itu disebabkan karena tidak optimalnya masa tanam pada tahun 2019. Saat itu petani memilih untuk tidak memberi pupuk karena harga komoditas yang murah. Selain itu juga terjadi musim kemarau yang berkepanjangan.

“Kalau kering itu pengaruhnya sampai 2 tahun, lalu di awal tahun ini ada La Nina yang juga katanya berpengaruh. Tetapi kalau tahun berikutnya juga turun berarti ada faktor fundamental lain yang sedang kita amati,” tuturnya.

Berdasarkan data milik Gapki, total produksi industri minyak sawit hingga Agustus 2021 mencapai 33,57 juta ton. Perinciannya, produksi CPO menyentuh di angka 30,676 juta ton sementara CPKO mencapai 2,89 juta ton. Di sisi lain, total konsumsi dari bahan baku itu mencapai 12,25 juta dan torehan ekspor mencapai 22,79 juta ton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

cpo kemendag
Editor : Rio Sandy Pradana
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top