Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Realisasi Investasi Capai 73,3 Persen per September 2021, Bisa Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Realisasi investasi ini mengalami pertumbuhan sebesar 7,8 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), dibandingkan dengan periode Januari-September 2020 yaitu Rp611,6 persen.
Dany Saputra
Dany Saputra - Bisnis.com 28 Oktober 2021  |  19:32 WIB
Presiden Jokowi didampingi Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Bahlil Lahadalia dan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto tiba di Bandar Udara Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Jumat (1/10/2021) sore - BPMI Setpres - Laily.
Presiden Jokowi didampingi Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Bahlil Lahadalia dan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto tiba di Bandar Udara Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Jumat (1/10/2021) sore - BPMI Setpres - Laily.

Bisnis.com, JAKARTA - Realisasi investasi Indonesia Januari-September 2021 tercatat sebesar Rp659,4 triliun atau sudah mencapai 73,3 persen dari target 2021 sebesar Rp900 triliun.

Nilai realisasi ini mengalami pertumbuhan sebesar 7,8 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), dibandingkan dengan periode Januari-September 2020 yaitu Rp611,6 persen.

Menurut Bahlil, capaian investasi selama 9 bulan sebelumnya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi di kuartal III/2021 hingga 4 persen.

"Ini tumbuh 7,8 persen. Menurut saya, dari data Kementerian Investasi, mungkin angka pertumbuhan ekonomi kita [bisa] antara 3-4 [persen]. Ini kalau dilihat dari investasi," jelas Bahlil pada konferensi pers, Rabu (27/10/2021).

Secara rinci, realisasi investasi ini terdiri dari Penanaman Modal Asing (PMA) atau Foreign Direct Investment (FDI) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Pada Januari-September 2021, porsi realisasi PMA lebih besar dari PMDN.

Total investasi asing langsung atau PMA yang masuk pada periode Januari-September 2021 adalah Rp331,7 triliun, atau tumbuh 9,9 persen (yoy) dari capaian pada periode yang sama di tahun lalu.

Untuk total investasi dalam negeri atau PMDN pada Januari-September 2021 tercatat sebesar Rp327,7 triliun atau tumbuh 5,8 persen (yoy) dari periode yang sama tahun lalu.

Secara kewilayahan, investasi yang masuk di daerah luar Jawa lebih besar daripada di Jawa pada Januari-September tahun ini. Total investasi di luar Jawa tercatat sebesar Rp340,7 triliun atau sebesar 51,7 persen dari total investasi.

Untuk penanaman modal di Jawa, realisasinya tercatat seebsar Rp318,7 triliun atau 48,3 persen dari total penanaman modal hingga September 2021.

"Kalau 2020, sampai dengan September, itu investasi di Jawa 50,3 persen dan di luar Jawa 49,7 persen. Tetapi di tahun ini, Jawa sebesar 48,3 persen dan luar Jawa 51,7 persen. Jadi luar Jawa itu lebih tinggi tahun ini, tumbuh 12 persen [yoy]," jelas Bahlil.

Untuk lokasi tujuan investasi terbesar, Jawa Barat menduduki peringkat pertama provinsi dengan penanaman modal terbesar sampai September 2021, baik untuk PMA maupun PMDN.

Secara akumulatif gabungan PMA dan PMDN, lokasi investasi terbesar setelah Jawa Barat adalah DKI Jakarta, Jawa Timur, Banten dan Riau. Hampir semuanya berada di Jawa.

Namun, jika dilihat hanya PMA saja, terdapat dua lokasi di luar Jawa yang menduduki lima besar peringkat realisasi terbesar PMA sampai dengan September 2021. Dua daerah tersebut adalah Maluku Utara dan Sulawesi Tengah.

Terkait dengan sektor, investasi terbesar dari awal tahun sampai September 2021 adalah pada sektor perumahan, kawasan industri dan perkantoran seebsar Rp88,8 triliun atau 13,5 persen dari total investasi.

Selanjutnya, investasi terbesar berdasarkan sektor diikuti oleh industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya sebesar Rp82,7 triliun (12,5 persen); transportasi, gudang dan telekomunikasi seebsar Rp80 triliun (12,1 persen); listrik, gas dan air sebesar Rp59,4 triliun (9 persen); dan pertambangan sebesar Rp53,3 triliun (8,1 persen).

Bahlil menyebut alasan dari sektor pertambangan menjadi salah satu sektor investasi terbesar tahun ini tidak lepas dari perkembangan harga komoditas yang mengalami kenaikan.

"Karena di 2021 ini harag komoditas harganya naik tinggi sekali, dan memang digenjot semuanya agar bisa meningkatkan kapasitas produksi, termasuk di dalamnya pasti investasi tambang," kata Bahlil.

Bahlil optimistis bahwa pada kahir 2021 nanti, target investasi Rp900 triliun bisa tercapai. Dia meyakini kementeriannya bisa merealisasikan target yang diberikan Presiden, meski hal itu bukan pekerjaan yang dinilai mudah.

"Saya harus katakan, bahwa ini bukan pekerjaan gampang bagi kami di Kementerian Investasi. Ini pekerjaan yang butuh kerja keras, tapi saya meyakinkan, insya Allah, target kami akan tercapai," ujar Bahlil.

Bahlil mengatakan keyakinannya tersebut turut didasari oleh perhitungan dan pemetaan terhadap beberapa investasi yang sudah direalisasi maupun yang akan masuk pada kuartal IV/2021.

Pada kuartal III/2021, BKPM mencatat realisasi investasi mencapai Rp216,7 triliun. Nilai investasi ini tumbuh sebesar 3,7 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dari kuartal III/2020 sebesar Rp209 triliun.

Adapun, nilai investasi pada kuartal III/2021 turun 2,8 persen secara kuartalan (quarter-to-quarter/qtq), dibandingkan dengan kuartal II/2021 yang mencapai Rp223 triliun.

"Saya optimis, tapi saya tidak mau sesumbar atau takabur. Doakan saja targetnya bisa tercapai," ujar Bahlil.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pertumbuhan Ekonomi Realisasi Investasi
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top