Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Indonesia Mesti Sampaikan Keseriusan Tangani Krisis Iklim Saat COP26

Indonesia perlu menunjukan keseriusan terhadap komitmen dalam menangani perubahan iklim di 26th UN Climate Change Conference of the Parties (COP26) di Glasgow, Skotlandia pada 31 Oktober–12 November 2021.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 19 Oktober 2021  |  18:50 WIB
 Pembangkit listrik tenaga bayu. - Istimewa
Pembangkit listrik tenaga bayu. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Indonesia perlu menunjukan keseriusan terhadap komitmen dalam menangani perubahan iklim di 26th UN Climate Change Conference of the Parties (COP26) di Glasgow, Skotlandia pada 31 Oktober–12 November 2021.

Associate Director Climate Policy Initiative Tiza Mafira mengatakan bahwa COP26 harus menjadi momentum untuk menunjukan keseriusan Negara mengatasi krisis iklim.

Bentuk komitmen tersebut perlu ditunjukan dengan rencana aksi, target penurunan emisi karbon tahunan, hingga kebijakan yang mendukung upaya mengantisipasi perubahan iklim.

“Jadi tidak hanya bicara kita punya komitmen tahun segini sampai tahun segini, tapi kita juga sudah punya kebijakan ini dan ini yang akan membantu kita mencapai komitmen tersebut,” katanya saat webinar INDY Fest 2021, Selasa (19/10/2021).

Upaya itu, lanjutnya, bukan sekadar komitmen terhadap dunia global, akan tetapi menjadi tanggung jawab pemerintah terhadap masyarakat. Keseriusan itu juga akan memiliki daya ungkit Indonesia di tingkat dunia dalam mengatasi krisis iklim.

Selain itu, sebagai negara berkembang, Indonesia memerlukan dukungan untuk menangani emisi karbon.

Salah satunya perihal pendanaan. Pasalnya, negara maju telah menyampaikan komitmennya untuk menyalurkan US$100 miliar per tahun untuk negara berkembangan menurunkan emisi karbon.

Tiza menyebut, pendanaan yang dijanjikan oleh negara maju kepada negara berkembang tersebut hingga kini tidak terealisasi secara penuh.

Catatannya, mereka hanya menggelontorkan dana sekitar US$70 miliar per tahun. Dia pun membandingkan dengan kucuran dana negara maju saat masa pandemi.

“Saat krisis pandemic, berapa banyak negara [menggelontorkan untuk pendanaan] mengatasi pandemi? US$150 miliar lebih. Ternyata uang itu ada ketika menghadapi krisis pandemi, tapi ketika menghadapi krisis iklim agak seret,” katanya.

Kondisi tersebut dinilai akan berdampak buruk dalam jangka panjang. Pasalnya, perubahan iklim menjadi isu yang sangat krusial di masa depan. Sebab itu, Indonesia perlu menyampaikan kesiapan dan keseriusan dalam menghadapi krisis iklim.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perubahan iklim emisi karbon
Editor : Lili Sunardi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

To top