Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ekspor Nonmigas ke China dan India Anjlok, Akibat Krisis Energi?

BPS mencatat penurunan ekspor ke India mencapai minus 482,5 persen sementara ke China minus 236,5 persen jika dibandingkan dengan Agustus 2021. 
Suasana Terminal 3 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (12/1/2021). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Suasana Terminal 3 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (12/1/2021). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Bisnis.com, JAKARTA —  Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan terdapat penurunan kinerja ekspor nonmigas yang signifikan ke negara mitra dagang seperti India dan China pada September 2021.

BPS mencatat penurunan ekspor ke India mencapai minus 482,5 persen sementara ke China minus 236,5 persen jika dibandingkan dengan Agustus 2021. 

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono mengatakan penurunan kinerja ekspor itu belum dapat dikaitkan dengan isu krisis energi yang menimpa kedua negara tersebut. Menurut Margo indikasi itu masih perlu dikaji lebih lanjut. 

“Kalau dikaitkan dengan isu krisis energi mungkin perlu kajian lagi, kita belum bisa mengkaitkan secara langsung,” kata Margo saat memberi keterangan resmi secara daring, Jumat (15/10/2021). 

Kendati demikian, Margo mengatakan penurunan nilai ekspor ke India secara bulanan itu disebabkan karena anjloknya permintaan komoditas lemak dan minyak hewan atau nabati sebesar 67,63 persen.

Selain komoditas lemak dan minyak hewan, Margo mengatakan ekspor pupuk ke negara itu mengalami penurunan mencapai 53,35 persen jika dibandingkan dengan bulan lalu. 

“Sementara untuk yang ke China kita turunnya itu disebabkan karena bahan bakar mineral yang turun mencapai 15,22 persen, kemudian minyak hewan nabati juga mengalami penurunan 19,02 persen,” kata dia. 

Adapun nilai ekspor nonmigas pada September 2021 mencapai US$19,67 miliar atau turun 3,38 persen jika dibanding Agustus 2021. Nilai ekspor ke China tercatat sebesar US$4,54 miliar atau 23,10 persen dari keseluruhan ekspor. Di sisi lain, pangsa ekspor nonmigas ke India mencapai 6,28 persen atau US$1,23 miliar. 

Neraca perdagangan Indonesia kembali mencetak surplus pada September 2021 seiring dengan menguatnya permintaan ekspor dan kenaikan harga komoditas. BPS mencatat surplus neraca perdagangan pada bulan tersebut mencapai US$4,37 miliar. 

Surplus ini turun dari Agustus lalu sebesar US$4,74 miliar. Sebagai catatan, surplus neraca perdagangan pada September 2021 merupakan surplus ke-17 kalinya sejak Mei 2020. Jika dirinci, ekspor per September mencapai US$20,60 miliar, sedangkan impor pada periode yang sama sebesar US$16,23 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper