Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Krisis Energi Eropa: Ini 5 Hal yang Harus Anda Ketahui

Berikut 5 hal penting yang harus Anda terkait krisis energi di Eropa seperti dilansir dari World Economic Forum, Kamis (14/10/2021).
Ithamar Yaomi DC
Ithamar Yaomi DC - Bisnis.com 14 Oktober 2021  |  17:42 WIB
Matahari terbenam di balik sistem derek pelabuhan dan turbin angin di Hamburg, Jerman. Eropa kini menghadapi krisis energi yang membuat harga gas meroket - neweurope.eu
Matahari terbenam di balik sistem derek pelabuhan dan turbin angin di Hamburg, Jerman. Eropa kini menghadapi krisis energi yang membuat harga gas meroket - neweurope.eu

Bisnis.com, JAKARTA – Masyarakat Uni Eropa menghadapi krisis energi kala menghadapi musim dingin yang panjang. Simak 5 hal yang harus Anda ketahui tentang krisis energi yang melanda Eropa.

Naiknya biaya energi kemungkinan akan mendorong tagihan bahan bakar dan meningkatkan pengeluaran sehari-hari lainnya, termasuk makanan. Alasan di balik krisis energi Eropa jauh dari lugas dan menggambarkan betapa kompleks dan saling terkaitnya pasar energi global.

Berikut 5 hal penting yang harus Anda ketahui terkait masalah yang memicu krisis energi di Eropa seperti dilansir dari World Economic Forum, Kamis (14/10/2021).

1. Permintaan Global Pulih

Pada 2020, permintaan gas alam turun sebesar 1,9 persen. Hal itu sebagian diakibatkan karena perubahan penggunaan energi selama periode gangguan pandemi terburuk. Namun, hal itu juga merupakan akibat dari musim dingin yang ringan di belahan bumi utara atau Eropa.

Dalam Tinjauan Keamanan Gas Global, Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan permintaan gas kemungkinan akan pulih sebesar 3,6 persen pada tahun ini. Jika dibiarkan, pada 2024 konsumsi gas global bisa tumbuh 7 persen lebih tinggi dari tingkat pra-pandemi.

Meskipun beralih dari batu bara ke gas, pertumbuhan permintaan gas diperkirakan akan melambat. IEA mengatakan pemerintah mungkin perlu membuat undang-undang untuk memastikan pertumbuhan emisi terkait gas tidak menjadi masalah.

“Kebijakan yang lebih ambisius diperlukan untuk beralih ke jalur nol bersih,” ungkap World Economic Forum.

2. Eropa Bergantung Impor Gas

Produksi gas Eropa menurun. Sejumlah cadangan gas Laut Utara mulai mengering, begitu pula sejumlah ladang gas di Belanda, seperti Groningen yang akan ditutup pada pertengahan 2022.

Hal ini membuat Eropa semakin bergantung pada impor gas, terutama dari Rusia dan Norwegia. IEA telah meminta Rusia untuk mengirim lebih banyak gas ke Eropa untuk membantu meringankan krisis. Kekhawatiran yang muncul bahwa fasilitas penyimpanan gas bawah tanah yang dikendalikan Rusia di Eropa memiliki persediaan lebih rendah dari tahun-tahun sebelumnya.

Berdasarkan informasi yang tersedia, Rusia memenuhi kontrak jangka panjangnya dengan rekan-rekan Eropa, tetapi ekspornya ke Eropa turun dari level 2019. IEA percaya bahwa Rusia dapat berbuat lebih banyak untuk meningkatkan ketersediaan gas ke Eropa dan memastikan penyimpanan diisi ke tingkat yang memadai sebagai persiapan untuk musim pemanasan di musim dingin yang akan datang.

"Ini juga merupakan kesempatan bagi Rusia untuk menggarisbawahi kredensialnya sebagai pemasok yang dapat diandalkan ke pasar Eropa,” kata IEA.

Beberapa produsen minyak terbesar di Eropa saat ini tengah fokus untuk meningkatkan bauran energi hijau dalam portofolio bisnis mereka. /Vattenfall

3. Harga Gas Meroket

Sejauh ini, harga gas Eropa telah meroket 600 persen pada 2021. Di awal Oktober 2021, terjadi lonjakan 37 persen harga gas grosir Inggris hanya dalam 24 jam. Harga melonjak mendorong kelompok pebisnis yang mewakili bisnis baja, kimia, dan pupuk untuk meminta pemerintah Inggris untuk memberikan bantuan terhadap biaya spiral.

Harga gas grosir telah menyebabkan beberapa penyedia energi yang lebih kecil di pasar Inggris runtuh, dan telah menghentikan produksi di beberapa industri.

4. Musim Dingin Datang Lagi

Awal 2021, benuna Eropa diselingi oleh serangkaian peristiwa cuaca ekstrem yang sangat dingin. Sebagian besar wilayah AS dipengaruhi oleh pusaran kutub yang membawa salju, es, dan suhu beku ke selatan.

Musim dingin utara yang sangat dingin lainnya akan memberi tekanan tambahan pada sistem gas yang sudah meregang. Menanggapi meningkatnya permintaan selama cuaca dingin tidak hanya akan ditantang oleh stok gas yang rendah.

Penyewaan kapal untuk mengangkut LNG di seluruh dunia telah dipengaruhi oleh kurangnya kapasitas pengiriman, membuat respons terhadap lonjakan permintaan menjadi sulit dan mahal.

“Tarif sewa kapal LNG spot harian telah melonjak di atas US$100.000 di masing-masing dari tiga musim dingin terakhir di belahan bumi utara. Dan mencapai titik tertinggi sepanjang masa di atas US$200.000,” kata IEA.

5. Transisi Energi Rumit

Gas membakar lebih bersih daripada minyak atau batu bara. Komoditas ini juga digunakan secara luas sebagai pengganti keduanya dalam produksi listrik. Meskipun berperan dalam membantu dekarbonisasi pembangkit listrik, gas tetap menjadi sumber emisi gas rumah kaca (GRK).

IEA menggambarkan gas sebagai sumber utama emisi yang perlu dikurangi, terutama di pasar yang matang di mana sebagian besar potensi pertumbuhan dan substitusi telah dimanfaatkan.

Gas alam sebagian besar terdiri dari metana, yang merupakan GRK yang kuat. Administrasi Informasi Energi AS mengatakan bahwa hampir sepertiga emisi metana disebabkan oleh gas alam dan sistem perminyakan dan dari sumur minyak dan gas alam yang ditinggalkan.

"Meskipun peningkatan keseluruhan permintaan global untuk gas antara tahun 2020 dan 2024 diperkirakan agak sederhana, itu akan terlalu tinggi untuk memenuhi tujuan lingkungan utama," jelas IEA.

IEA memperkirakan peningkatan 9 persen dalam permintaan gas tahunan antara tahun 2020 dan 2024, secara signifikan lebih tinggi dari pertumbuhan permintaan yang perlu dipertahankan agar tetap sejalan dengan target emisi nol bersih pada tahun 2070.

Dekarbonisasi sistem gas perlu menjadi prioritas untuk mencapai target nol emisi bersih pada tahun 2050, kata IEA, yang melibatkan penggunaan gas rendah karbon secara luas. Penyebaran ini harus didukung oleh kebijakan yang diberlakukan dalam jangka pendek hingga menengah untuk mempersiapkan untuk transisi besar-besaran untuk sistem dan industri gas.

"Dalam hal ini, pembuat kebijakan harus mempertimbangkan keamanan baru dari tantangan pasokan yang mungkin muncul dalam transisi ini," ujar IEA.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

energi uni eropa World Economic Forum Krisis Energi
Editor : Feni Freycinetia Fitriani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top