Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Puncak Panen Berlalu, Ekonom Perkirakan Bulog Kesulitan Serap Jagung Lokal

Tugas penyerapan jagung produksi dalam negeri oleh Perum Bulog untuk stok cadangan pemerintah dinilai akan sulit terealisasi. Ketersediaan jagung pada akhir tahun menjadi kendala terbesar yang dihadapi perusahaan tersebut.
Pekerja mengeringkan jagung yang baru dipipil di Desa Balongga, Sigi, Sulawesi Tengah, Senin (6/9/2021)./ANTARA FOTO-Basri Marzuki
Pekerja mengeringkan jagung yang baru dipipil di Desa Balongga, Sigi, Sulawesi Tengah, Senin (6/9/2021)./ANTARA FOTO-Basri Marzuki

Bisnis.com, JAKARTA – Tugas penyerapan jagung produksi dalam negeri oleh Perum Bulog untuk stok cadangan pemerintah dinilai akan sulit terealisasi. Ketersediaan jagung pada akhir tahun menjadi kendala terbesar yang dihadapi perusahaan tersebut.

Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori mengatakan bahwa penyerapan jagung merupakan hal yang baru bagi Perum Bulog, meskipun jagung telah masuk ke dalam daftar komoditas yang perlu dijaga stoknya.

“Sebelumnya Bulog bisa dikatakan tidak pernah menyentuh jagung. Lalu soal keberadaan jagung, benarkah hari-hari ini mudah mendapatkan jagung?” kata Khudori, Rabu (13/10/2021).

Sekalipun perusahaan memperoleh pasokan, Khudori menyoroti aspek anggaran dalam tugas penyerapan kali ini. Pasalnya, harga jagung cenderung terus naik sejak April 2021.

Data Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian memperlihatkan harga rata-rata jagung pipil kering (JPK) dengan kadar air 15 persen mencapai Rp5.783 per kilogram (kg). Sementara itu, harga acuan pembelian di tingkat konsumen dipatok Rp4.500 per kg dalam Permendag Nomor 7/2020.

“September sampai Desember tahun ini neraca jagung defisit. Panen tak mencukupi kebutuhan. Pasti tidak mudah bagi Bulog untuk mendapatkan jagung, apalagi dengan harga acuan Rp4.500 per kilogram,” katanya.

Khudori mengatakan, pengadaan stok jagung pemerintah merupakan hal yang mendesak jika melihat eksistensi industri perunggasan Tanah Air.

Demi menjamin pertumbuhan industri perunggasan, pemerintah perlu menjamin ketersediaan jagung yang bisa diakses setiap saat dengan harga terjangkau.

“Karena panen musiman dan terpusat di sejumlah provinsi, sedangkan kebutuhan ajek, ada kebutuhan pemerintah untuk menyiapkan cadangan atau stok.”

Neraca bulanan jagung sendiri memperlihatkan surplus selama kurun Januari sampai dengan April 2021, dengan volume surplus terbesar pada Februari sebanyak 1,25 juta ton. Pada Agustus 2021, neraca jagung defisit sebesar 188.524 ton.

Sementara itu, total kebutuhan jagung mencapai 859.500 ton. Sebanyak 787.500 ton merupakan kebutuhan pabrik pakan, dan 72.000 ton kebutuhan peternak layer mandiri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor : Lili Sunardi

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper