Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Peringkat Kredit Pengembang China Makin Jeblok

Sejumlah lembaga rating internasional seperti Moody’s Investors Service, Fitch Ratings dan S&P Global Ratings telah memangkas peringkat sebanyak 91 pengembang pada 30 September lalu.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 12 Oktober 2021  |  23:52 WIB
China Evergrande Center di Wan Chai, Hong Kong, pada Senin (20/9/2021) - Bloomberg/Kyle Lam
China Evergrande Center di Wan Chai, Hong Kong, pada Senin (20/9/2021) - Bloomberg/Kyle Lam

Bisnis.com, JAKARTA - Sejumlah pengembang properti China mencatatkan penurunan rating kredit dengan laju tercepat dalam 5 tahun terakhir seiring dengan penurunan penjualan rumah.

Dilansir Bloomberg pada Selasa (12/10/2021), sejumlah lembaga rating internasional seperti Moody’s Investors Service, Fitch Ratings dan S&P Global Ratings telah memangkas peringkat sebanyak 91 pengembang pada 30 September lalu, tiga kali lebih banyak dari jumlah peningkatan tahun ini.

Evergrande Group masih menjadi pusat perhatian lantaran beberapa pemegang obligasi yang jatuh tempo pada Senin mengatakan mereka belum menerima pembayarannya. Keterlambatan pembayaran kupon obligasi sebelumnya juga terjadi pada dua obligasi offshore pada bulan lalu.

Asosiasi Real Estat China dilaporkan merencanakan simposium dengan pengembang pada hari Jumat untuk mempelajari risiko yang dihadapi perusahaan.

Sinic Holdings Group Co., menjadi perusahaan real estat yang baru-baru ini memperingatkan gagal bayar yang akan terjadi karena meningkatnya risiko perluasan dampak yang membuat investor menebak perusahaan mana lagi yang bakal menghadapi krisis kredit.

Pengembang yang berbasis di Shanghai ini mengatakan dalam pengajuan bursa saham Hong Kong bahwa pihaknya memperkirakan tidak dapat membayar kembali obligasi US$250 juta dolar yang jatuh tempo pada 18 Oktober dan itu dapat memicu cross-default pada dua catatan lainnya.

Perusahaan ini memiliki US$694 juta obligasi dolar yang beredar, menurut data yang dikumpulkan Bloomberg. Perusahaan melewatkan pembayaran obligasi dalma negeri pada September sehingga memicu penurunan saham 87 persen saat itu.

Penderitaan Fantasia Holdings Group Co., semakin berat setelah ditinggal oleh dua direktur, melanggar aturan pencatatan Hong Kong.

Beberapa hari setelah gagal membayar obligasi dolar, Fantasia mengatakan Direktur Ho Man mengundurkan diri, mengungkapkan keprihatinan bahwa dia tidak diberi tahu sepenuhnya tentang hal-hal penting tertentu dari perusahaan pada waktu yang tepat.

Sementara itu, direktur non-eksekutif independen lainnya, Wong Pui Sze, juga meninggalkan perusahaan dan mengatakan tidak ada perselisihan dengan dewan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rating ekonomi china Evergrande
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top