Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Saran UKM Ekspor Barang Lewat Udara, Ada Permintaan untuk Pemerintah

Pengiriman barang lewat jalur udara lebih mahal dibandingkan dengan moda angkutan laut.
Rahmi Yati
Rahmi Yati - Bisnis.com 04 Oktober 2021  |  02:32 WIB
Saran UKM Ekspor Barang Lewat Udara, Ada Permintaan untuk Pemerintah
Pedagang merapikan kiosnya saat tidak beroperasi di Pasar Tasik, Tanah Abang (21/8/2021). Pemerintah terus mempercepat realisasi anggaran program Pemulihan Ekonomi Nasional 2021 yang diantaranya ditujukan untuk penyaluran bantuan dan insentif kepada pelaku usaha baik korporasi maupun UMKM yang terdampak pandemi COVID-19. - ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyarankan pelaku UKM, khususnya UKM yang mengekspor produk berukuran kecil atau ringan, untuk beralih dari pengiriman jalur laut ke jalur udara.

Hal itu dilakukan mengingat saat ini tarif pengiriman barang ekspor melalui jalur laut mengalami peningkatan lima hingga sepuluh kali lipat dari sebelumnya. Kini, biaya pengapalan mencapai US$10.000 sampai US$20.000 per kontainer.

Menyikapi itu, Pemerhati Penerbangan Alvin Lie menilai usulan tersebut sah-sah saja asal pemerintah yang menanggung biaya ekspornya. Sebab, pengiriman barang lewat jalur udara lebih mahal dibandingkan moda angkutan laut.

"Kalau memang Kementerian Perdagangan menyarankan diekspor menggunakan pesawat udara boleh boleh saja asal pemerintah yang menanggung biayanya. Tapi kalau pengrajin yang menanggung pasti tidak masuk perhitungan bisnis," ungkapnya kepada Bisnis, Minggu (3/10/2021).

Menurut Alvin, angkutan udara memiliki karakter berupa kecepatan dan ruangnya terbatas, tidak sebanyak angkutan laut atau kapal. Maka dari itu, biaya angkut transportasi udara per meter kubik maupun per kilogramnya menjadi jauh lebih mahal daripada angkutan laut.

Melihat karakteristik tersebut, dia menyebut hanya barang-barang yang bernilai tinggi dan atau yang usianya pendek yang sebaiknya dikirim lewat udara. Misalnya, dokumen penting atau barang-barang yang nilainya tinggi tapi barangnya kecil atau ringan.

"Kalau kerajinan yang nilainya rendah dan barangnya berat, makan ruang besar atau bobotnya berat itu nanti biaya angkutnya menjadi jauh lebih tinggi daripada kerajinan itu sendiri. Ujung-ujungnya harus diperhitungkan ketika barang itu tiba di tujuan apakah nilainya atau harganya masih dalam koridor perhitungan bisnis atau tidak," ujar Alvin.

Sebelumnya, pemerintah berkomitmen terus memfasilitasi ekspor UKM. Dengan demikian, produk UKM dapat menjangkau pasar yang lebih luas terlepas dari beberapa hambatan logistik selama pandemi.

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengatakan permintaan ekspor produk-produk Indonesia makin meningkat akibat adanya perang dagang antara China dan Amerika Serikat. Dia mengatakan situasi ini menjadi peluang bagi Indonesia, tak terkecuali ekspor UKM.

"Saat ini Indonesia kebanjiran permintaan produk untuk diekspor ke luar negeri. Hal ini merupakan peluang yang luar biasa untuk mendorong ekspor nasional,” kata Lutfi dalam dialog bersama UKM di sela-sela pelaksanaan Expo 2020 Dubai, dikutip dari siaran pers, Minggu (3/10/2021).

Meski ada peluang permintaan yang naik, Lutfi menyebutkan bahwa saat ini tarif pengiriman barang ekspor melalui jalur laut mengalami peningkatan lima hingga sepuluh kali lipat dari sebelumnya. Kini biaya pengapalan mencapai US$10.000 sampai US$20.000 per kontainer.

"Terkait tarif pengiriman ekspor jalur laut yang meningkat, kami memberikan usulan kepada para pelaku UKM, khususnya UKM yang mengekspor produk berukuran kecil atau ringan untuk beralih dari pengiriman jalur laut ke jalur udara. Hal ini mengingat adanya penurunan angka penumpang pesawat yang mengharuskan perusahaan penerbangan untuk tetap terbang dengan membawa muatan kargo,” imbuhnya.

Selain itu Lutfi juga mengatakan Indonesia kesulitan untuk merebut pasar ekspor yang ditinggalkan China buntut dari kelangkaan kontainer yang mencapai 5.000 unit setiap bulannya.

“Dampak dari kelangkaan kontainer itu, kita tidak bisa memanfaatkan pesanan yang begitu besar untuk mengisi kekosangan yang biasa disuplai oleh China, itu konsekuensi yang ingin kita elakkan,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor transportasi perdagangan umkm logistik kargo udara
Editor : M. Nurhadi Pratomo
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top