Investor Bersiap Hadapi Perubahan di Jerman Usai Ditinggal Angela Merkel

Pergantian pemerintahan di Jerman diyakini bakal membawa banyak perubahan di arah ekonomi negara tersebut.
Kanselir Jerman Angela Merkel berbicara dalam konferensi pers di Belgrade, Serbia, Senin (13/9/2021)./Bloomberg-Oliver Bunic
Kanselir Jerman Angela Merkel berbicara dalam konferensi pers di Belgrade, Serbia, Senin (13/9/2021)./Bloomberg-Oliver Bunic

Bisnis.com, JAKARTA — Investor bersiap menghadapi perubahan seiring dengan kepemimpinan baru di Jerman dan kekuatan dukungan terhadap partai kiri yang mendukung emisi nol.

Seperti dilansir dari Bloomberg, Minggu (26/9/2021), dukungan terhadap Partai Sosial Demokrat dan Partai Greens telah meningkatkan ekspektasi pasar terhadap koalisi berikutnya yang kemungkinan tidak akan terlalu mengekang fiskal sebagai ciri khas pemerintahan Angela Merkel yang konservatif.

Selain itu, era setelah Merkel juga diperkirakan membawa Jerman lebih antusias dalam mendukung persatuan Eropa setelah menguatnya dua partai tengah-kiri.

Kepala ekonom UniCredit SpA Erik F. Nielsen memprediksi investasi akan meningkat signifikan yakni sekitar 1 persen PDB, meskipun datang melalui rekayasa fiskal yang agak buram.

“Pemerintahan Jerman yang akan datang, dalam keseimbangan, lebih berkomitmen kepada Eropa dan berintegrasi lebih lanjut dibanding sebelumnya. Sebagian besar karena kemungkinan peningkatan substansial dalam pengaruh partai hijau," ujarnya.

Rakyat Jerman akan memilih anggota parlemen, Bundestag, melalui pemilihan umum pada Minggu (26/9).

Mereka akan menjadi perwakilan untuk memilih kanselir yang baru, setelah Angela Merkel yang berkuasa selama 16 tahun meninggalkan pemerintahan. Partai tengah-kanan Kristen Demokrat yang dipimpin Merkel tengah berjuang menghadapi kekuatan kiri.

Sebagian besar perusahaan Jerman dapat mengambil manfaat dari pergantian kanselir, meskipun industri yang menyumbang polusi akan menjadi perhatian seiring dengan transisi kepada netral karbon. Konsensus di antara partai utama terkait dengan investasi pada infrastruktur rendah karbon akan berdampak kepada pasar ekuitas secara luas di Eropa.

“Dalam banyak seknario, fokus pada perubahan iklim akan meningkat, yang mana sektor utilitas akan memulihkan kinerja year-to-date yang melemah," ujar strategis JPMorgan Chase & Co. strategists Mislav Matejka.

Di sisi lain, penghasil emisi CO2 tinggi seperti maskapai penerbangan, transportasi, baja, konstruksi dapat mengalami hambatan.

Analis UBS Group AG Felix Huefner mengidentifikasi bahwa Siemens Gamesa, Vestas, Infineon, RWE, dan E.ON akan menjadi deretan perusahaan yang mendapatkan keuntungan dari koalisi baru yang fokus pada investasi di teknologi hijau dan digital.

Sementara itu, partai kiri dan tengah-kiri yang dipimpin oleh Sosial Demokrat bakal mendesak regulasi ketenagakerjaan dan menaikkan upah yang bakal berdampak pada bisnis pakaian seperti H&M dan Zalando SE. Upaya untuk mendukung iklim yang lebih baik juga akan mengekspos industri penerbangan dan bandara seperti Fraport AG dan Deutsche Lufthansa AG.

“Kami yakin aset Jerman akan menawarkan kesempatan investasi yang menarik bagi investor global, terutama di pasar modal dengan fokus industri yang bertransisi kepada tujuan net-zero pada 2045," ujar Thomas Kruse dan Tristan Perrier dari Amundi Asset Management.

Secara umum, sektor-sektor seperti energi hijau dan otomotif akan sangat menarik seiring dengan pengembangan kendaraan listrik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Nindya Aldila
Editor : Annisa Margrit
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper