Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Waspada! Target Inflasi 3 Persen di 2022 Dibayangi Risiko Ini

Pemerintah harus menghindari kenaikan inflasi dari tekanan produksi atau distribusi, yakni cost-push inflation.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 20 September 2021  |  13:19 WIB
Warga berbelanja kebutuhan pangan dan rumah tangga di salah satu supermarket di Cimahi, Jawa Barat, Minggu (19/4/2020). Bisnis - Rachman
Warga berbelanja kebutuhan pangan dan rumah tangga di salah satu supermarket di Cimahi, Jawa Barat, Minggu (19/4/2020). Bisnis - Rachman

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah dinilai perlu mewaspadai kenaikan inflasi yang disebabkan oleh meningkatnya harga bahan baku, dalam upaya mendorong inflasi ke kisaran 3 persen.

Hal tersebut disampaikan oleh peneliti center of macroeconomics and finance Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Agus Herta Sumarto dalam bincang-bincang bertajuk Bank Indonesia Perlu Mendorong Inflasi? yang diselenggarakan melalui akun Instagram resmi Indef pada Minggu (19/9/2021) malam.

Agus menjelaskan bahwa inflasi Indonesia berada di tingkat yang rendah, yakni pada Desember berada di angka 1,68 persen. Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa per Agustus 2021 inflasi berada di 1,59 persen, angka terendah terjadi pada Juni 2021 yakni 1,33 persen.

Menurutnya, upaya pemerintah untuk mendorong inflasi ke angka 3 persen pada 2022 merupakan langkah tepat. Dia menilai bahwa pertumbuhan ekonomi beriringan dengan tingkat inflasi, sehingga pertumbuhan yang tinggi harus disertai inflasi yang sesuai.

Meskipun begitu, Agus mewanti-wanti agar pertumbuhan inflasi harus berasal dari naiknya permintaan. Pemerintah harus menghindari kenaikan inflasi dari tekanan produksi atau distribusi, yakni cost-push inflation.

"Cost-push inflation disebabkan naiknya harga/biaya bahan baku, bukan karena naiknya permintaan. Biaya tenaga kerja naik juga bisa. Harga naik, tapi di sisi lain tingkat pendapatan gak naik, berarti ada penurunan daya beli," ujar Agus pada Minggu (19/9/2021) malam.

Dia menjelaskan bahwa jika angka inflasi 3 persen pada 2022 tercapai tapi merupakan cost-push inflation, Indonesia justru akan menghadapi masalah baru. Pertumbuhan ekonomi pun dikhawatirkan tidak terjadi, atau tercapai dengan kondisi tidak sehat.

Menurut Agus, untuk mencegah hal itu BI harus mampu berkolaborasi dengan pemerintah, khususnya kementerian-kementerian terkait. Upaya menjaga inflasi dari sisi moneter dinilai tidak akan cukup jika cost-push inflation terjadi.

Indef menyoroti masih tingginya ego sektoral kementerian-kementerian di Indonesia, sehingga perlu upaya ekstra untuk memastikan inflasi dan pertumbuhan ekonomi terjadi dengan sehat. Agus menilai bahwa BI dan pemerintah harus memiliki komitmen yang sama untuk menjaga perekonomian dengan baik.

"Kebijakan moneter kalau tidak dikonversi menjadi aktivitas ekonomi, itu akan jadi inflasi lagi, jadi penyakit. Makanya harus disertai dengan aktivitas ekonominya, seperti menciptakan pabrik baru, agar terjadi demand pull inflation. Cuma itu, bisa gak berkolaborasi menciptakan harmonisasi yang baik?"

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi permintaan harga barang
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top