Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Industri Modul Solar Wajib Penuhi Kebutuhan EBT Demi Target 3,6 GW Pada 2025

Industri di Indonesia harus memenuhi potensi kebutuhan modul surya sekitar 600 megawatt peak (MWp) sampai dengan 1.200 MWp per tahun untuk mencapai target kapasitas terpasang 3,6 gigawatt (GW) pada 2025.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 13 September 2021  |  19:00 WIB
Industri Modul Solar Wajib Penuhi Kebutuhan EBT Demi Target 3,6 GW Pada 2025
Pekerja membersihkan panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di pondok pesantren Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Wali Barokah di Kota Kediri, Jawa Timur, Kamis (16/5/2019). Pembangunan PLTS senilai Rp10 miliar dengan panel surya seluas 41 meter x 40 meter tersebut mampu menghasilkan listrik 220.000 Watt per hari. - ANTARA / Prasetia Fauzani
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Industri di Indonesia harus memenuhi potensi kebutuhan modul surya sekitar 600 megawatt peak (MWp) sampai dengan 1.200 MWp per tahun untuk mencapai target kapasitas terpasang 3,6 gigawatt (GW) pada 2025.

Direktur Aneka Energi Baru dan Terbarukan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Chrisnawan Anditya menilai bahwa industri di Indonesia belum memenuhi potensi kebutuhan tersebut.

Demi mencapai target 3,6 GW pada 2025, industri dalam negeri harus memenuhi kebutuhan pasar 600–1.200 MWp dengan asumsi kenaikan 20 persen per tahun.

“Saat ini baru ada 17 pabrikan modul dengan kapasitas 524 MWp [per tahun]” katanya saat webinar refleksi empat tahun gerakan nasional sejuta surya atap (GNSSA), Senin (13/9/2021).

Selain kemampuan produksi tahunan modul surya dalam negeri, Kementerian ESDM mencatat maksimum kapasitas per modul surya yang dapat diproduksi di dalam negeri hanya 440 MWp.

Kondisi itu menuntut industri tersebut untuk lebih mengembangkan kemampuan pelaku usaha lokal. Langkah itu juga sejalan dengan perkembangan teknologi di tingkat global.

“Sehingga terlihat [potensi] kapasitas 1.200 MW ini juga memberikan tambahan effort bagi mereka agar lebih mengembangkan dan makin masuk industri dalam negeri agar tumbuh kembali,” terangnya.

Di sisi lain, Kementerian ESDM juga menemukan total potensi PLTS atap yang dapat dikembangkan sebesar 32,5 GW. Angka itu terbagi pada sejumlah sektor, seperti rumah tangga 19,8 GW, Bisnis 5,9 GW, Industri 1,9 GW, segmen sosial 4,6 GW, dan pemerintah 0,3 GW.

Sementara itu, penggunaan daya melalui PLTS atap masih berada pada 35,56 MWp dengan 4.028 pelanggan. Meski segmen rumah tangga mendominasi 3.300 pelanggan yakni 8,7 MWp, namun pemakaian terbesar justru dilakukan oleh sektor industri yakni 11,5 MWp.

Sementara itu, Eka Himawan, President Director PT Xurya Daya Indonesia menilai, tingginya minat pelaku industri terhadap instalasi PLTS atap juga seiring dengan meningkatnya konsumsi produk hijau melalui penggunaan energi listrik dari pembangkit EBT.

“Kini konsumen juga semakin kritis terhadap produk yang dikonsumsinya, apakah proses produksi dan operasionalnya memiliki dampak yang merugikan bagi lingkungan atau tidak,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kementerian esdm plts
Editor : Lili Sunardi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top