Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kementerian Investasi Sebut Dana PEN Besar jadi Kunci Pemulihan Ekonomi

Sementara, dari perspektif investasi, Kementerian Investasi/BKPM mendukung perbaikan dari sisi kesehatan.
Jaffry Prabu Prakoso
Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 26 Agustus 2021  |  17:13 WIB
Kementerian Investasi Sebut Dana PEN Besar jadi Kunci Pemulihan Ekonomi
BKPM - Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA -- Staf Ahli Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indra Darmawan mengatakan bahwa negara-negara lain yang berhasil menumbuhkan ekonomi disebabkan oleh stimulus atau dana pemulihan ekonomi nasionalnya (PEN) sangat tinggi.

“Amerika Serikat [AS] itu sampai 25 persen dari PDB [produk domestik bruto], Singapura kurang lebih 16 persen. Kita sekitar 2,7 persen yang angkanya sekitar Rp700 triliun itu,” katanya pada diskusi virtual, Kamis (26/8/2021).

Indra menjelaskan bahwa dampak esktrem akibat dana PEN yang sangat tinggi adalah Pemerintah AS kesulitan mendapatkan pekerja untuk sektor rumah sakit dan restoran.

Warga AS lebih memilih menjadi pelanggan karena bantuan atau tabungannya masih banyak. Ini yang mendorong konsumsi cukup tinggi di Negara Adidaya tersebut.

Melihat kasus tersebut, Indra melihat stimulus perlu menjadi perhatian. Bantuan sosial bisa menjadi salah satu yang ditingkatkan. Sementara, dari perspektif investasi, BKPM mendukung perbaikan dari sisi kesehatan.

Selain sudah memiliki online single submission (OSS) untuk mempermudah perizinan, sektor kesehatan menjadi perhatian investasi. “Itu jadi yang penting sekali dan digitalisasi yang mendorong prduktivitas jadi lebih tinggi,” jelasnya.

Kesehatan menjadi faktor kunci dalam penanganan pandemi, sehingga mampu memulihkan ekonomi. Pernyataan Indra terkait dana menjadi faktor penentu berbeda dengan pandangan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati.

Sri Mulyani mengatakan bahwa setiap negara memiliki pendekatan yang berbeda dalam menghadapi Covid-19. Sejak Covid-19 menyebar, AS menjadi negara paling banyak terjangkit dengan total 38,8 juta penduduk.

Selanjutnya diikuti India 32,5 juta, Brazil 20,6 juta, Rusia 6,8 juta, dan Prancis 6,6 juta. Indonesia sendiri ada di 3,99 juta masyarakat atau 1,5 persen terhadap total populasi.

Dilihat dari total populasi, Indonesia berada di bawah rata-rata dunia, yaitu 2 persen. Angka paling tinggi adalah AS dengan 11,7 persen, Argentina 11,4 persen dan Spayol 10,3 persen.

Jika dilihat dari kasus harian per tujuh hari, AS masih menjadi paling tinggi, yaitu 147.700 penduduk. Selanjutnya adalah Iran 35.5000, Inggris 32.800, India 30.100, dan Brazil 29.3000 kasus.

Lalu mengacu pada setiap 1 juta populasi, negara tetangga Malaysia merupakan terbesar dengan 654 kasus. Kemudian Inggris 483, AS 446, Iran 423, dan Perancis 313 temuan.

Sementara di Indonesia, papar Sri Mulyani, kasus harian mingguannya ada di 16.800 kasus dengan 61 penduduk per 1 juta populasi yang terjangkit Covid-19.

“Berdasarkan tadi jumlah Covid-19 yang ada, Indonesia dibandingkan bahkan dengan ekonomi yang bagus, kuat, atau populasi lebih sedikit, tidak menjamin mereka sukses kendalikan,” jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bkpm pemulihan ekonomi Pemulihan Ekonomi Nasional KPCPEN
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top