Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

China Sebut PM Kanada Arogan saat Konflik dengan Huawei Memanas

Kedutaan Besar China di Ottawa menyatakan kemarahan besar dan kecaman paling keras, memprotes kritik Trudeau terhadap hukuman penjara 11 tahun terhadap warga negara Kanada Michael Spavor.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 12 Agustus 2021  |  14:44 WIB
Perdana Menteri (PM) Kanada Justin Trudeau dalam sebuah konferensi pers di Chelsea, Quebec, Kanada, Jumat (19/6/2020). - Bloomberg/David Kawai
Perdana Menteri (PM) Kanada Justin Trudeau dalam sebuah konferensi pers di Chelsea, Quebec, Kanada, Jumat (19/6/2020). - Bloomberg/David Kawai

Bisnis.com, JAKARTA - China mengecam komentar Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau sebagai ungkapan yang sangat tidak masuk akal dan arogan, ketika Beijing meningkatkan untuk mencegah ekstradisi eksekutif Huawei Technologies Co. ke Amerika Serikat.

Kedutaan Besar China di Ottawa menyatakan kemarahan besar dan kecaman paling keras, memprotes kritik Trudeau terhadap hukuman penjara 11 tahun terhadap warga negara Kanada Michael Spavor. Trudeau telah mengutuk putusan dalam pengadilan Spavor yang dia nilai bermuatan politik.

Kedutaan juga menolak tuduhan bahwa penuntutan Spavor dan warga Kanada lainnya, Michael Kovrig adalah penahanan sewenang-wenang yang dimaksudkan untuk menekan Ottawa agar memblokir ekstradisi CFO Huawei Meng Wanzhou. Pemerintah China memandang kasus ini sebagai serangan bermotif politik terhadap salah satu perusahaan teknologi utamanya.

"Tidak ada yang namanya 'penahanan sewenang-wenang' sama sekali. Sebaliknya, pihak Kanada, mengabaikan sifat politik dari insiden Meng Wanzhou dan bertindak sebagai kaki tangan pihak AS, telah menahan Meng, warga negara China yang tidak bersalah dan tidak melanggar hukum Kanada sama sekali, selama hampir 1.000 hari. Ini adalah penahanan sewenang-wenang dalam segala hal," kata kedutaan dalam pernyataannya, dilansir Bloomberg, Kamis (12/8/2021).

Seorang juru bicara Kedutaan Besar China di Washington juga mengkritik AS karena membuat komentar sembrono dan tidak bertanggung jawab pada kasus Spavor. Dia mendesak pihak berwenang AS untuk mencabut ekstradisi Meng tanpa syarat.

Spavor dan Kovrig ditahan oleh agen mata-mata top China pada Desember 2018, beberapa hari setelah penangkapan Meng di Vancouver dan pemerintah telah memajukan penuntutan mereka bersamaan dengan perjuangan ekstradisi Meng.

Vonis Spavor datang tepat ketika pembelaan Meng memulai upaya terakhir untuk mencegahnya dikirim ke AS untuk menghadapi tuduhan penipuan. Waktu putusan Kovrig masih belum jelas.

Para diplomat dari 25 negara, termasuk Jepang, Jerman dan Inggris, berkumpul di Kedutaan Besar Kanada sebelum vonis Spavor. Isyarat ini menunjukkan kepada Beijing bahwa semua mata dunia sedang menonton.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken juga mengeluarkan pernyataan yang mengecam penggunaan penahanan sewenang-wenang untuk menjalankan pengaruh diplomatik.

"Orang tidak boleh digunakan sebagai alat tawar-menawar," kata Blinken.

Kedutaan Besar China menolak pertunjukan solidaritas diplomatik dengan Kanada sebagai upaya diplomasi oleh segelintir diplomat dari negara-negara Barat. "Ini benar-benar sia-sia," katanya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china kanada Justin Trudeau

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top