Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Politisasi Bank Sentral G7 Pengaruhi Saham Dunia

Adapun skenario dasar jangka panjang tetap bahwa respons kebijakan dramatis terhadap Covid-19 di negara-negara G7, dalam hal pertumbuhan kebijakan fiskal dan moneter, menandai awal dari berakhirnya era disinflasi.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 14 Juli 2021  |  12:50 WIB
Salah satu layar perdagangan di bursa saham China. - Bloomberg
Salah satu layar perdagangan di bursa saham China. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Ekuitas global dapat terus menguat didorong dinamika pembukaan kembali pengetatan wilayah di tengah berlanjutnya vaksin Covid-19.

Di samping itu, Federal Reserve Amerika Serikat mengakui telah meremehkan siklus pemulihan dan peningkatan tekanan inflasi, meskipun kenaikan harga itu disebut hanya sementara saja.

Christopher Wood, Kepala Strategi Ekuitas Global, Jefferies Hong Kong Ltd., mengatakan dalam analisisnya, jika ketakutan akan inflasi tertinggi sejak awal 1980-an kini telah dimulai, pertanyaan kuncinya tetap bagaimana Fed menanggapi bukti lebih lanjut dari meningkatnya tekanan itu.

Setiap indikasi penarikan stimulus lebih awal yang diikuti lonjakan suku bunga akan memicu aksi jual tajam dalam ekuitas.

Sementara itu, kredit multiplier di AS belum mengkonfirmasi adanya pembalikan inflasi dengan rasio pinjaman terhadap simpanan bank komersial berjalan pada titik terendah sepanjang masa, seiring dengan deposito rumah tangga yang didorong oleh pembayaran transfer.

"Ekonomi Amerika baru dibuka kembali sepenuhnya pada kuartal terakhir sementara bank sekarang melonggarkan standar pinjaman. Tren pinjaman bank ke ekonomi riil, yang bertentangan dengan pembiayaan pembelian aset, harus diawasi dengan ketat," tulis Wood, Rabu (14/7/2021).

Adapun skenario dasar jangka panjang tetap bahwa respons kebijakan dramatis terhadap Covid-19 di negara-negara G7, dalam hal pertumbuhan kebijakan fiskal dan moneter, menandai awal dari berakhirnya era disinflasi.

Menurut Wood, ini karena pandemi telah menjadi katalis di negara-negara G7 untuk adopsi kebijakan intervensionis seperti perubahan iklim dan ketidaksetaraan. Fed, misalnya, kini menargetkan tenaga kerja penuh dan inklusif.

"Aktivisme kebijakan baru ini akan mempersulit secara politis, jika bukan tidak mungkin, bagi Fed dan bank sentral G7 lainnya untuk menjadi konsevatif, seperti juga tingkat utang yang belum terbayar," lanjutnya.

Akibatnya, Fed kemungkinan akan mengunci imbal hasil obligasi pemerintah dengan mengadopsi beberapa upaya kontrol, dengan pertanyaan kunci apakah ini dilakukan sebelum atau setelah langkah risk-off di pasar saham yang didorong oleh kekhawatiran tapering.

Sementara itu, kebijakan moneter dan fiskal China akan tetap sangat konservatif, berbeda berbeda dengan G7. Itulah sebabnya modal asing terus mengalir ke pasar obligasi China dan mengapa ekuitas China harus terbukti defensif dalam setiap ketakutan yang meruncing.

Tren apresiasi yuan terhadap dolar AS yang berlangsung sejak 2005, akan terus berlanjut sementara akan ada fokus yang berkembang pada usulan peluncuran renminbi digital secara nasional pada akhir tahun ini.

Sedangkan emas dan Bitcoin tetap menjadi lindung nilai penting terhadap kembalinya inflasi dan kebijakan penurunan nilai mata uang. Kecepatan akan tetap menjadi variabel kunci untuk dipantau jika dan kapan tren turun jangka panjang dalam perputaran uang berbalik arah.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

saham bank sentral G7
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top