Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Setelah Taksi Online Didi Chuxing, China Tangguhkan Dua Aplikasi Lagi

China menyebut perusahaan aplikasi ini dapat menyerahkan data pengguna ke Amerika Serikat.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 06 Juli 2021  |  10:21 WIB
Setelah Taksi Online Didi Chuxing, China Tangguhkan Dua Aplikasi Lagi
Jasa layanan pengantaran makanan Didi Chuxing di China - Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah China mengumumkan dua platform yang telah menggelar IPO, Boss Zhipin dan Yunmanman and Huochebang, dikenai sanksi yang serupa dengan taksi daring Didi Chuxing. 

Badan Siber China (CAC), seperti yang dilansir Antara, Selasa (6/7/2021) telah melakukan pemeriksaan terhadap kedua platform tersebut karena dianggap berisiko terhadap keamanan data nasional.

Boss Zhipin merupakan aplikasi daring pencarian kerja, sedangkan Yunmanman and Huochebang sebagai penyedia jasa angkutan barang di bawah perusahaan Full Truck Alliance.

Sebelumnya, aplikasi taksi daring terbesar China Didi Chuxing juga dikenai sanksi yang sama atas dugaan pelanggaran kebocoran data konsumen.

Aplikasi yang disasar aparat di China ini merupakan perusahaan besar yang baru-baru ini meluncurkan IPO di pasar modal AS. Langkah yang disebut memicu kekhawatiran terhadap keamanan data nasional China.

Didi meluncurkan IPO di Bursa Saham New York (NYSE). Sebelumnya Boss Zhipin melantai di bursa saham Nasdaq. Lalu Truck Aliance yang menghubungkan pengirim barang dengan sopir truk mengawali debutnya di lantai bursa saham AS.

Sanski yang diberikan berupa penangguhan pendaftaran pengguna baru di tiga platform tersebut selama pemeriksaan.

Para pengamat China mencurigai AS akan memaksa perusahaan dari negeri Tirai Bambu menyerahkan data setelah mengamati rekam jejak AS yang tidak berhenti memaksa para pebisnis China.

Senada dengan pernyataan itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin mengatakan bahwa AS membuka pintu kembali kepada perusahaan China untuk mendapatkan data pengguna secara ilegal.

"AS itu ancaman terbesar keamanan siber global," ujarnya dalam pengarahan pers di Beijing.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ipo StartUp

Sumber : Antara

Editor : Anggara Pernando
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top