Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

PPKM Darurat, Bank Mandiri Turunkan Proyeksi Inflasi 2021 jadi 2,28 Persen

Tekanan inflasi diperkirakan akan tetap meningkat pada semester II/2021, tetapi tidak sebesar perkiraan sebelumnya.
Pedagang menata sayuran yang dijual di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (27/1/2020)./ ANTARA - Sigid Kurniawan
Pedagang menata sayuran yang dijual di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (27/1/2020)./ ANTARA - Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA - Ekonom Bank Mandiri merevisi angka proyeksi tingkat inflasi pada 2021, dari awalnya 2,92 persen menjadi 2,28 persen.

Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman memperkirakan tekanan inflasi diperkirakan akan tetap meningkat pada semester II/2021, tetapi tidak sebesar perkiraan sebelumnya.

“Alasannya adalah keputusan pemerintah untuk memperpanjang insentif pajak untuk pajak barang mewah untuk kendaraan hingga akhir tahun yang akan memangkas harga jual mobil,” katanya, Kamis (1/7/2021).

Di samping itu, menurutnya harga emas relatif lebih rendah dibandingkan dengan level tahun lalu seiring pemulihan ekonomi global yang lebih cepat dari yang diantisipasi sebelumnya.

Maraknya kasus harian Covid-19 akhir-akhir ini yang juga memaksa pemerintah untuk memberlakukan kembali pembatasan yang lebih ketat terhadap kegiatan masyarakat, yang disebut PPKM Darurat.

Penerapan kebijakan ini untuk menekan mobilitas masyarakat dan kegiatan bisnis selama masa pemulihan ekonomi, yang akibatnya akan membatasi kecepatan peredaran uang.

“Kami melihat permintaan cenderung melemah di awal semester II/2021, sehingga mengurangi permintaan yang potensi meningkatkan inflasi,” jelasnya.

Oleh karena itu, Faisal memprediksi inflasi pada tahun ini akan sebesar 2,28 persen, lebih tinggi dari realisasi inflasi 2020 sebesar 1,68 persen.

Adapun BPS mencatat, Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juni 2021 mengalami deflasi sebesar -0,16 persen secara bulanan (month-to-month/mtm).

Secara tahun berjalan, inflasi tercatat mencapai 0,74 persen (year-to-date/ytd) dan secara tahunan inflasi mencapai 1,33 persen (year-on-year/yoy).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Maria Elena
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper