Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

SDM Logistik Perlu Ikuti Standar Kompetensi Kerja Nasional

Supply Chain Indonesia menilai SDM logistik perlu mengikuti standar kompetensi kerja nasional untuk meningkatkan keterampilan dan keahlian yang tepat.
Ilustrasi jasa kurir
Ilustrasi jasa kurir

Bisnis.com, JAKARTA - Supply Chain Indonesia (SCI) menilai sumber daya manusia (SDM) di bidang logistik perlu meningkatkan kompetensi profesionalnya melalui pelatihan dan sertifikasi yang mengacu terhadap Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI).

Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi menyebut pelatihan dan sertifikasi berbasis SKKNI akan memudahkan calon pekerja maupun pekerja untuk meningkatkan keterampilan dan keahlian yang tepat, karena proses penyusunan SKKNI sudah disesuaikan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.

"SDM bidang logistik yang kompeten diperlukan untuk mendukung kinerja logistik yang akan mempengaruhi daya saing produk di dalam maupun luar negeri," katanya dalam siaran pers, Sabtu (5/6/2021).

Terpisah, Director Quaker ID and Supply Chain Lead Asia GMD PepsiCo Ayok Nugroho mengatakan peta kompetensi personal terbagi atas specialist dan generalist. Kelebihan seorang specialist berkaitan dengan go to expert dan stability, sedangkan kelebihan generalist mencakup big picture & strategic, broad skill, transferable skill, dan career flexibility.

Menurutnya, profesional supply chain dapat berkontribusi terhadap bisnis dengan pengetahuan seperti sales & operations planning, sourcing network strategy, serta demand & supply planning. Selain itu, diperlukan right & clear mindset serta kemampuan menyederhanakan.

Sebelumnya, Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) mencatat kompetensi profesional SDM Indonesia masih harus terus ditingkatkan, termasuk melalui pelatihan dan sertifikasi yang tingkatnya masih rendah. Berdasarkan data, sertifikasi tenaga kerja 2006 hingga September 2020 hanya sekitar 4,9 juta.

BNSP menyebut kondisi ketenagakerjaan di Indonesia ditandai dengan mismatch antara kebutuhan dan ketersediaan keterampilan, perkembangan teknologi digital dan otomatisasi yang menimbulkan potensi disrupsi dan menciptakan jenis pekerjaan baru, kebutuhan lebih banyak pekerja berketerampilan menengah-tinggi, dan proses perpindahan pekerja di pasar kerja belum optimal.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rahmi Yati
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper