Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Giant Tutup Total Akhir Juli, Aprindo: Titik Nadir Ritel Modern

Aprindo menilai kondisi ritel modern berada di titik nadir usai Giant memutuskan untuk menutup gerai secara total.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 25 Mei 2021  |  18:02 WIB
Konsumen memilih barang kebutuhan di salah satu gerai supermarket Giant di Jakarta, Minggu (23/6/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya
Konsumen memilih barang kebutuhan di salah satu gerai supermarket Giant di Jakarta, Minggu (23/6/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menyebutkan keputusan Hero Group untuk menutup seluruh gerai Giant secara total menjadi refleksi situasi bisnis ritel yang tertekan dan memasuki titik nadir. Lebih banyak pelaku usaha diperkirakan akan mengikuti jejak Hero untuk menutup atau mengalihfungsikan gerai berformat besar.

“Sebagai asosiasi penaung ritel modern, kami sangat berduka dengan situasi ini. Bagaimanapun Giant adalah anggota kami. Hal ini sekaligus menunjukkan ritel modern, terutama format hypermarket, sudah di titik nadir,” kata Ketua Umum Aprindo Roy N. Mandey, Selasa (25/5/2021).

Roy mengemukakan penutupan toko biasanya ditempuh sebagai solusi terakhir perusahaan setelah melakukan efisiensi sampai penggunaan dana cadangan.

Penutupan besar-besaran Giant diperkirakan Roy bakal menimbulkan sejumlah dampak. Langkah penutupan secara langsung akan mengurangi investasi karena format hypermarket mencakup sirkulasi produk dalam jumlah besar. Lesunya bisnis hypermarket juga berisiko menahan kemunculan pemain atau investor baru di segmen ini.

Di sisi lain, upaya Hero untuk mengalihkan lima gerai Giant untuk kehadiran toko IKEA dan beberapa gerai lainnya untuk Hero Supermarket dinilai Roy cukup masuk akal mengingat tren berbelanja di supermarket maupun specialty store cenderung masih bagus. Dia juga menyebutkan opsi ini bisa diikuti oleh pengelola hypermarket lainnya untuk mengurangi beban selama pandemi.

“Aksi downgrade ke toko dengan skala lebih kecil bisa lebih marak lagi, tak hanya di format hypermarket, tetapi juga untuk toko swalayan dan specialty store. Karena memang yang masih bagus performanya di skala kecil seperti minimarket,” imbuh Roy.

Dia berpendapat berlanjutnya gelombang penutupan ritel modern tak lepas dari minimnya stimulus yang diberikan pemerintah kepada sektor ritel selama pandemi. Terlepas akan hal tersebut, dia mengatakan pelaku usaha bakal mengupayakan pemenuhan hak pekerja yang terimbas oleh keputusan penutupan bisnis sesuai dengan regulasi ketenagakerjaan yang berlaku.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ritel giant
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top