Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kebal Pandemi, Sawit Masih Diandalkan

Hantaman pandemi Covid19 tak menyeret industri sawit ke jurang krisis, malah mencatatkan kinerja kinclong.
Puput Ady Sukarno
Puput Ady Sukarno - Bisnis.com 24 Mei 2021  |  15:42 WIB
/Bisnis
/Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA- Di tengah tekanan akibat pandemi Covid-19, industri sawit nasional mampu membukukan kinerja positif dan berkontribusi pada perekonomian nasional.

Pandemi Covid-19 masih berlangsung hingga saat ini. Dampaknya, perekonomian dunia mengalami kontraksi, dan Indonesia pun mengalami resesi. Namun saat ini pemulihan ekonomi Indonesia mulai terlihat. Tercatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2021 hanya sebesar minus 0,74%, lebih baik dibandingkan dengan triwulan-triwulan sebelumnya.

Industri kelapa sawit masih menunjukkan kinerja yang positif hingga April 2021. Meski masih di tengah pandemi Covid-19, ekspor sawit Indonesia mampu meningkat tajam. Menurut catatan BPS, ekspor pada April 2021 mencapai US$18,48 miliar atau tumbuh 52% dari periode yang sama tahun lalu US$12,16 miliar. Berdasarkan catatan BPS, kinerja ekspor sawit April 2021 tercatat tumbuh tinggi dampak dari meningkatnya permintaan komoditas dan harga dari komoditas tersebut, terutama komoditas ekspor andalan Indonesia, yakni minyak kelapa sawit.

Sementara sepanjang 2020, industri sawit menjadi salah satu penopang dari surplusnya neraca perdagangan Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada 2020 mengalami surplus sebesar US$ 21,74 miliar. Dari total surplus tersebut, ekspor produk kelapa sawit menyumbang nilai ekspor sebesar US$22,97 miliar, atau meningkat sebesar 13,60% dibandingkan nilai ekspor pada 2019.

Peningkatan nilai ekspor tersebut ditopang perbaikan harga crude palm oil (CPO) dan minyak nabati. Harga rata-rata CPO dan minyak nabati pada semester I/2020 mencapai sebesar US$646 per ton, lalu meningkat menjadi US$775 per ton pada semester II/2020. Mengalami peningkatan harga dibandingkan periode tahun sebelumnya, yakni harga rata-rata dari Januari-Agustus 2019 sebesar USD 524 per ton.

Peningkatan permintaan sawit tak hanya dari ekspor melainkan pula domestik. Sepanjang 2020, konsumsi domestik meningkat 3,6% dibandingkan tahun sebelumnya, atau menjadi sebesar 17,35 juta ton. Peningkatan ini dikarenakan naiknya permintaan oleokimia untuk konsumsi sabun dan bahan pembersih, serta meningkatnya permintaan konsumsi untuk biodiesel terkait kebijakan B30.

Deputi V Kemenko Perekonomian Musdalifah Machmud, mengamini industri sawit memiliki kekuatan menangkal imbas pandemi. Salah satu faktor penunjang kekuatan industri sawit, ungkapnya, adalah keunggulan komoditas tersebut yang dibutuhkan banyak manufaktur lainnya.  Untuk lebih menguatkan akar industri sawit, pemerintah pun mendorong hilirisasi produk secara massif.

“Tentang industri kita mendorong supaya investasi bukan hanya di hulu tetapi juga di hilir. Ini untuk menjaga daya saing produk kita. Kita harus perluas diversifikasi baik untuk jenis industri seperti farmasi, pangan dll. Juga untuk keperluan sehari-hari seperti sabun, lilin, makanan juga pakai kelapa sawit,” ungkapnya, beberapa waktu lalu kepada wartawan di Jakarta.

Di samping itu, investasi dan hilirisasi merupakan strategi pemerintah menggenjot produksi sawit nasional. Menurut Musdalifah, salah satu program prioritas yakni pemanfaatan sawit sebagai energi baru terbarukan melalui mandat penggunaan B100. “Kita juga mendorong untuk pemanfaatannya,  B100 kan kita sudah riset supaya demand kita tidak tergantung dengan demand luar karena produksi kita akan terus bertumbuh. Kita juga melakukan re-planting rencananya dari produktivitasnya diharapkan bisa bertumbuh hingga tiga kali lipat dari sebelumnya,” ungkapnya.

MENANG di EROPA 

Sementara itu, Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian, Eko S.A. Cahyanto optimistis industri sawit bisa bertahan menangkal imbas pandemi, sekaligus tetap menjadi komoditas andalan ke depan. Optimisme itu disokong salah satunya dengan kemenangan RI memperjuangkan tarif masuk komoditas sawit ke Eropa.

Eko menjelaskan bahwa Kementerian Perindustrian-- untuk mempertahankan komitmen yang telah disepakati dalam kerangka kerja sama Indonesia-European Free Trade Association Comprehensive Economic Partnership (IE-CEPA)--akhirnya sejalan dengan hasil referendum Swiss yang telah dilaksanakan pada 7 Maret 2021. Sebanyak 51,6% penduduk Swiss sepakat untuk mendukung IE-CEPA.

Dia menjelaskan, skema perjanjian perdagangan komprehensif IE-CEPA dinilai berpeluang untuk lebih meningkatkan akses pasar bagi produk industri Indonesia, termasuk produk sawit dan turunannya.  Pada dasarnya, Swiss tidak perlu khawatir terkait isu keberlangsungan produk sawit Indonesia dan turunannya mengingat telah diterapkannya Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) yang diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 44 tahun 2020 tentang Sistem Sertifikasi Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia.

“Indonesia memiliki potensi besar untuk mengisi kebutuhan produk industri di Eropa, yang selama ini sebagian besar pemenuhan kebutuhan akan produk sawit dan turunannya berasal dari negara transit seperti Pantai Gading, Kepulauan Solomon, dan Malaysia,” jelasnya.

Karena itu, Kemenperin akan terus mendorong ekspor produk sawit dan turunannya ke Swiss, langsung dari Indonesia sebagai negara produsen. Adapun produk hilir sawit yang potensial untuk masuk ke pasar Uni Eropa, termasuk Swiss, antara lain adalah lemak padatan pangan (confectionary), personal wash (sabun, fatty acid, fatty alcohol, glycerin), hingga bahan bakar terbarukan (biodiesel FAME).


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sawit
Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top