Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Cerita Lengkap di Balik Tawaran Pensiun Dini Pegawai Garuda

Penawaran pensiun dini tersebut tertuang dalam surat elektronik yang diterima para pegawai Garuda Indonesia pada Rabu, 19 Mei 2021 sekitar pukul 23.00 WIB.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 22 Mei 2021  |  05:45 WIB
Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) Setiaputra. Kementerian BUMN meminta agar manajemen Garuda Indonesia secepatnya membenahi pola penyewaan atau leasing pesawatnya sehingga tidak menjadi beban bagi perseroan. -  Istimewa
Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) Setiaputra. Kementerian BUMN meminta agar manajemen Garuda Indonesia secepatnya membenahi pola penyewaan atau leasing pesawatnya sehingga tidak menjadi beban bagi perseroan. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. kembali menawarkan program pensiun dipercepat alias pensiun dini yang efektif per 1 Juli 2021. Sebelumnya, program pensiun dini ini sudah berjalan di perusahaan tersebut pertengahan tahun lalu.

Penawaran pensiun dini tersebut tertuang dalam surat elektronik yang diterima para pegawai Garuda Indonesia pada Rabu, 19 Mei 2021 sekitar pukul 23.00 WIB.

Berdasarkan isi surat elektronik, perencanaan pensiun dini itu diputuskan pada Rabu, 19 Mei 2021. Adapun email itu dikirim oleh Human Capital Management.

Dikutip dari Tempo, informasi mengenai penawaran pensiun dini itu dibenarkan oleh Presiden Asosiasi Pilot Garuda Muzaeni. "Betul, sudah ada yang mengajukan," ujarnya, Kamis, (20/5/2021).

Namun demikian, dia belum mengetahui berapa banyak orang yang akan ikut dalam program tersebut. Berdasarkan informasi yang diperoleh, sebelum adanya surat elektronik itu sempat ada pertemuan antara manajemen dan perwakilan pegawai secara virtual.

Dari notulensi rapat diketahui bahwa manajemen mengatakan program pensiun dipercepat akan disetujui 100 persen. Pasalnya, manajemen dalam pertemuan tersebut mengatakan kerugian perusahaan mencapai Rp70 triliun. Setiap bulan, perusahaan rugi lebih dari Rp 1 triliun.

Ke depannya, menurut informasi tersebut, Garuda Indonesia hanya akan mempertahankan kemungkinan kurang dari 70 pesawat. Adapun, total karyawan akan disesuaikan dengan kebutuhan.

Nantinya, perusahaan bisa saja menggunakan jasa karyawan yang mengikuti program pensiun dipercepat jika dibutuhkan suatu saat nanti, Namun, tidak ada kontrak kerja apa pun.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan penawaran program ini dilakukan sejalan dengan upaya pemulihan kinerja usaha yang tengah dijalankan perserioan.

Maskapai pelat merah tersebut ingin menjadi lebih sehat serta adaptif menjawab tantangan kinerja usaha pada era kenormalan baru.

"Terlebih dengan situasi pandemi yang masih terus berlangsung hingga saat ini, mengharuskan Perusahaan melakukan langkah penyesuaian aspek suplai dan permintaan ditengah penurunan kinerja operasi imbas penurunan trafik penerbangan yang terjadi secara signifikan," ujarnya seperti diberitakan Bisnis, Jumat (21/5/2021).

Pertengahan tahun lalu, Garuda Indonesia sebenarnya telah menawarkan program serupa. Pada 14 Juli 2020, sebanyak 400 orang karyawan Garuda Indonesia diketahui sudah menerima tawaran pensiun dini dari manajemen perusahaan.

"Secara sukarela menerima program pensiun dini," kata Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi BUMN DPR di Jakata, Selasa, (14/7/2021).

Saat itu, Irfan menyebutkan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku, karyawan yang diberi tawaran pensiun dini adalah mereka yang sudah berusia 45 tahun ke atas. Dia memastikan perusahaan akan memberikan hak-hak terhadap karyawan, seperti pesangon.

Akan tetapi, pensiun dini hanya satu dari sekian upaya Garuda Indonesia bertahan di tengah pandemi Covid-19. Beberapa kebijakan lain yang ditempuh Garuda yaitu dengan pemotongan gaji seluruh karyawan hingga kebijakan unpaid leave. Unpaid leave telah diberlakukan untuk 800 Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT).

Sementara strategi lainnya yaitu optimalisasi pendapatan non-penumpang, efisiensi biaya, penundaan pembayaran sewa pesawat, sampai restrukturisasi sukuk dengan penjadwalan ulang bayar utang jatuh tempo menjadi 3 Juni 2023.

Meski berbagai situasi ini terjadi, manajemen Garuda Indonesia tetap optimistis bahwa bisnis penerbangan akan kembali pulih di 2021. Dalam kegiatan public expose pada akhir 2020, manajemen memproyeksikan jumlah penumpang di 2021 akan kembali pulih, hingga 50 persen dari sebelum pandemi.

"Kami optimistis upaya pemulihan kinerja perseroan di masa pandemi ini dapat terus menunjukkan pertumbuhan positif," tulis pihak Garuda dalam laman Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 18 Desember 2020.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Garuda Indonesia pensiun dini

Sumber : Tempo

Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top