Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ambisi Saingi Alibaba, Induk TikTok ByteDance Rekrut Ribuan Pekerja

ByteDance ditargetkan menghasilkan lebih dari US$185 miliar pada 2022.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 09 Mei 2021  |  14:43 WIB
Logo TikTok ditampilkan di TikTok Creator's Lab 2019 yang digelar Bytedance Ltd. di Tokyo, Jepang, Sabtu (16/2/2019). - Bloomberg/Shiho Fukada
Logo TikTok ditampilkan di TikTok Creator's Lab 2019 yang digelar Bytedance Ltd. di Tokyo, Jepang, Sabtu (16/2/2019). - Bloomberg/Shiho Fukada

Bisnis.com, JAKARTA - Setelah menjadi penantang utama Facebook melalui aplikasi TikTok, ByteDance Ltd. yang didirikan Zhang Yiming kini memiliki ambisi baru untuk menyangi raja e-commerce Alibaba. Zhang Yimin sedang membidik pasar e-commerce China yang bernilai US$1,7 triliun dalam aksi terbarunya.

Salah satu pendiri ByteDance telah mempekerjakan ribuan staf dan merekrut sponsor terkenal untuk mendorong apa yang dia sebut sebagai terobosan besar berikutnya ke dalam bisnis global, yakni menjual barang kepada konsumen melalui video pendek dan streaming langsung yang membuat ketagihan.

Upaya itu tidak hanya akan menguji sentuhan ajaib Zhang dengan pembuatan aplikasi dan keajaiban kecerdasan buatan ByteDance, tetapi juga penerimaan investor menjelang salah satu IPO yang paling ditunggu-tunggu di dunia teknologi.

ByteDance sudah mulai membuat gelombang dalam industri e-commerce yang telah lama dikendalikan oleh Alibaba Group Holding Ltd. dan JD.com Inc. Perusahaan rintisan itu menjual make-up, pakaian, dan barang lainnya senilai US$26 miliar pada 2020. Pada tahun pertamanya itu, ByteDance sudah mencapai nilai yang sama dengan yang dibutuhkan Taobao dari Alibaba selama enam tahun.

Perusahaan ditargetkan menghasilkan lebih dari US$185 miliar pada 2022. Douyin, media sosial serupa TikTok di China, diharapkan menyumbang lebih dari setengah dari penjualan iklan domestik perusahaan sebesar US$ 40 miliar pada tahun ini, sebagian didorong oleh e-commerce.

"Platform video pendek memiliki begitu banyak lalu lintas sehingga pada dasarnya mereka dapat melakukan bisnis apa pun," kata Shawn Yang, direktur pengelola Blue Lotus Capital Advisors, dilansir Bloomberg, Minggu (9/5/2021).

Douyin menurutnya tidak hanya merambah iklan, tetapi juga live-streaming, e-commerce, layanan kehidupan lokal, dan pencarian.

Bisnis dagang-el yang sedang berkembang dapat membantu perusahaan melampaui valuasi US$250 miliar ketika go public, melawan kekhawatiran seputar tindakan keras Beijing terhadap raksasa internet negara itu.

Persiapan sedang dilakukan untuk melakukan listing yang akan menjadi salah satu debut paling dinanti di dunia. Meskipun ByteDance tidak akan menangani penjualan atau barang dagangan itu sendiri, ia berharap dapat menjual lebih banyak iklan ke pedagang, dan meningkatkan lalu lintas data.

Raksasa internet ini terhitung terlambat masuk ke kancah perdagangan sosial China, di mana influencer mempromosikan produk kepada penggemar seperti versi Gen-Z dari Jaringan Belanja Rumah. Format tersebut, yang dipelopori oleh Alibaba sebagai alat pemasaran pada 2016, memperoleh panggung yang menaikkan pamornya pada tahun lalu ketika Covid-19 meningkatkan permintaan akan hiburan di rumah.

Tahun lalu, Taobao Live dari Alibaba menghasilkan lebih dari 400 miliar yuan (US$62 miliar) nilai barang dagangan kotor dan platform sosial Kuaishou Technology menampung 381 miliar yuan transaksi, lebih dari dua kali lipat Douyin.

Untuk mengejar ketertinggalan itu, ByteDance mengandalkan rekomendasi berbasis minat yang digerakkan oleh kecerdasan buatan. Para eksekutif menjelaskan bahwa perusahaan bermaksud untuk mereplikasi kesuksesannya dengan menggunakan algoritma kecerdasan buatan untuk menghasilkan konten belanja online.

Dengan menggulirkan konten sosial secara terus-menerus, Douyin kini lebih terhubung denhan barang fisik daripada sebelumnya.

"Ini mirip dengan berbelanja di jalanan. Saat orang semakin kaya, mereka tidak pergi ke pusat perbelanjaan atau toko butik dengan memikirkan hal-hal tertentu, mereka hanya membeli jika mereka melihat sesuatu yang mereka sukai," kata Bob Kang, kepala e-commerce Douyin.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china alibaba inovasi teknologi TikTok

Sumber : Bloomberg

Editor : Annisa Sulistyo Rini

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top