Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Meski Mobilitas Mulai Ramai, Konsumsi Belum Pulih. Ini 3 Faktor Penyebabnya

Sebenarnya mobilitas sudah terjadi, tapi mobilitas tidak sama dengan konsumsi. Karena orang sudah bergerak seolah terlihat di mana-mana cukup ramai, tapi kalau dilihat sisi konsumsi itu belum terjadi
Dany Saputra
Dany Saputra - Bisnis.com 05 Mei 2021  |  05:52 WIB
Sejumlah pengunjung melihat barang-barang yang dijual dengan harga diskon di sebuah pusat perbelanjaan di Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (7/12/2019). Jelang libur Natal dan Tahun Baru, pusat perbelanjaan menawarkan barang- barang dengan harga diskon untuk menarik minat pembeli dan salah satu cara agar target penjualan tercapai pada akhir tahun. - ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah
Sejumlah pengunjung melihat barang-barang yang dijual dengan harga diskon di sebuah pusat perbelanjaan di Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (7/12/2019). Jelang libur Natal dan Tahun Baru, pusat perbelanjaan menawarkan barang- barang dengan harga diskon untuk menarik minat pembeli dan salah satu cara agar target penjualan tercapai pada akhir tahun. - ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah

Bisnis.com, JAKARTA – Ekonom Senior Center of Reform on Economics (CORE) Hendri Saparini memaparkan sejumlah alasan mengapa konsumsi rumah tangga belum dapat mendorong pemulihan ekonomi Indonesia.

Pertama, kelompok pendapatan menengah atas dan menengah sebagai penentu konsumsi rumah tangga, masih belum bergerak melakukan spending. Adapun, sebesar 20 persen kelompok masyarakat berpendapatan menengah atas dan 40 persen menengah memiliki porsi konsumsi sebesar 82 persen dari struktur konsumsi masyarakat Indonesia.

“Padahal kelas menengah dan atas itu belum akan spending. Mereka masih akan tetap bertahan dalam kondisi seperti ini, karena bagi mereka kesehatan itu nomor satu. Jadi, itu kenapa konsumi masyarakat belum kembali [pulih] dengan cepat,” ujar Hendri dalam diskusi virtual, Selasa (4/3/2021).

Kedua, sebesar 40 persen kelompok pendapatan menengah ke bawah sangat bergantung pada bantuan sosial (bansos). Persentase tersebut setara dengan 27 juta kepala keluarga, dan bahkan melebihi jumlah penerima bansos yaitu 18,5 juta keluarga.

Ketiga, sebanyak 2,9 juta pekerja kehilangan pekerjaan selama pandemi, dan belum memiliki tambahan pendapatan selain bantuan dari pemerintah. Sementara, Hendri menyebut bansos hanya merupakan instrumen untuk survival (bertahan hidup).

“Ini kemudian jadi PR besar bagi Indonesia, karena 56 persen dari ekonomi kita adalah konsumsi,” katanya.

Menurut Hendri, lemahnya konsumsi rumah tangga akhirnya belum berhasil mendorong penjualan ritel dan produk-produk yang diminati masyarakat. Dia mencatat konsumsi masyarakat normalnya tumbuh sebesar 5 persen, sementara terakhir pada kuartal IV/2020, konsumsi terkontraksi sebesar -3,6 persen.

Dia lalu menambahkan kegiatan konsumsi masyarakat sangat bergantung pada perkembangan penanganan pandemi Covid-19, agar masyarakat dapat kembali melakukan mobilitas dengan rasa aman.

“Sebenarnya mobilitas sudah terjadi, tapi mobilitas tidak sama dengan konsumsi. Karena orang sudah bergerak seolah terlihat di mana-mana cukup ramai, tapi kalau dilihat sisi konsumsi itu belum terjadi,” jelasnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pertumbuhan Ekonomi konsumsi
Editor : Ropesta Sitorus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top