Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mendag Australia Bertolak ke Eropa Bicarakan Akses Vaksin Covid-19

Kecepatan peluncuran vaksin telah menjadi kekhawatiran di Australia menyusul masalah kesehatan pada dosis AstraZeneca dan pembatasan ekspor dari Eropa.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 14 April 2021  |  15:14 WIB
Bendera Uni Eropa - Reuters
Bendera Uni Eropa - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Perdagangan Australia Dan Tehan bertandang ke Eropa untuk berdiskusi langsung dengan pejabat sejumlah negara kawasan itu mengenai ekspor dan akses terhadap vaksin.

"Pembicaraan itu akan membahas pasokan vaksin Covid-19 yang diproduksi oleh UE yang telah dikontrak Australia dan bagaimana kami dapat bekerja dengan UE untuk meningkatkan pasokan vaksin global,” kata Tehan dilansir Bloomberg, Rabu (14/4/2021).

Dia juga akan bertemu dengan Wakil Presiden Eksekutif Komisi Eropa Valdis Dombrovskis dan Menteri Luar Negeri Inggris untuk Perdagangan Internasional Liz Truss untuk memajukan negosiasi perjanjian perdagangan bebas.

Kecepatan peluncuran vaksin telah menjadi kekhawatiran di Australia menyusul masalah kesehatan pada dosis AstraZeneca dan pembatasan ekspor dari Eropa.

Perdana Menteri Scott Morrison yang awalnya menjanjikan semua warga akan mendapatkan dosis pertamanya pada Oktober mendatang, kini mencabut tenggat tersebut tanpa memperbaruinya. Sekitar 1,2 juta orang di negara berpenduduk lebih dari 25 juta itu telah menerima dosis pertama.

"Ada tantangan serius yang perlu kami atasi yang disebabkan oleh pasokan vaksin internasional yang tidak merata, perubahan saran medis, dan kebutuhan lingkungan global yang disebabkan oleh jutaan kasus Covid-19 dan kematian,” katanya.

Sementara Morrison membela strategi peluncuran vaksin pemerintahnya, dia dikritik oleh partai oposisi utama Partai Buruh karena sejauh ini kurang 3 juta dosis dari jadwal yang dijanjikan sebelumnya.

Bulan lalu, Menteri Kesehatan Australia Greg Hunt mengatakan negaranya telah mengangkat masalah pembatasan ekspor dengan Komisi Eropa melalui berbagai saluran dan telah meminta keputusan tersebut untuk ditinjau.

Hunt sekarang mengatakan Eropa tidak mungkin menyediakan 3,1 juta dosis vaksin AstraZeneca yang masih beredar karena aturan ekspor yang diperketat dari blok tersebut.

Tehan, yang ditunjuk sebagai kepala perdagangan Australia pada Desember lalu, mengatakan ingin menyelesaikan kesepakatan perdagangan dengan Inggris dan UE pada akhir tahun ini.

Persoalan yang dihadapi Australia menggarisbawahi masalah ketimpangan distribusi vaksin antara negara-negara di dunia. Di Eropa, Tehan juga akan bertemu dengan Direktur Jenderal Organisasi Perdagangan Dunia Ngozi Okonjo-Iweala.

Okonjo-Iweala yang menjabat pucuk pimpinan WTO pada awal bulan lalu juga telah bertemu dengan Kepala Perwakilan Dagang AS (USTR) Katherine Tai dan membicarakan akses vaksin untuk negara-negara miskin.

Meski belum mengubah sikapnya pada proposal India dan Afrika Selatan mengenai pengabaian Trade Related-Aspects of Intellectual Property (TRIP) di WTO, Tai telah memulai advokasi dengan menemui industri farmasi dan organisasi terkait mengenai hal ini.

Pengabaian aturan kekayaan intelektual dalam produksi vaksin ditentang oleh industri farmasi besar dunia. Ini menjadi tekanan terhadap Pemerintah Biden yang bertolak belakang dengan dorongan Anggota Kongres Partai Demokrat, serikat pekerja, dan kelompok sipil yang meminta presiden menghilangkan kendala produksi di negara-negara berkembang. 

Pengabaian TRIP diusulkan India dan Afrika Selatan pada akhir tahun lalu untuk memperluas produksi vaksin di negara-negara miskin yang kini tertinggal dalam penyuntikkan dosis.

Dalam keterangannya, Okonjo-Iweala mengatakan pertemuan dengan Tai berfokus pada peningkatan respons Covid-19 global dan mengatasi kesenjangan dalam produksi global dan distribusi vaksin, alat pelindung diri dan pasokan medis lainnya, serta agenda reformasi WTO yang lebih luas.

"Dalam semua diskusi saya di Washington, semakin jelas bahwa pemulihan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif dari pandemi Covid-19 berarti akses yang cepat dan merata terhadap vaksin, terutama di negara berkembang dan kurang berkembang," katanya dalam keterangan tertulis.

Dia menjanjikan dukungan lebih banyak pada upaya mempercepat peningkatan volume produksi vaksin untuk memerangi kelangkaan saat ini, sambil memastikan akses yang lebih baik ke teknologi medis dalam krisis kesehatan di masa depan.

"Ini adalah prioritas bagi saya, dan saya akan terus bekerja dengan semua anggota WTO untuk mencapainya, dan memastikan perdagangan melayani masyarakat dan planet ini," ujarnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

uni eropa australia
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top