Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pemerintah Optimistis Ekonomi Tumbuh tapi Sektor Berikut Masih Lesu

Kinerja indeks sektor konsumsi memang mengalami tekanan yang cukup kuat sepanjang pandemi Covid-19.
Jaffry Prabu Prakoso
Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 06 April 2021  |  21:59 WIB
Suasana gedung bertingkat dan perumahan padat penduduk di Jakarta, Rabu (31/3/2021). - Bisnis/Eusebio Chrysnamurti.
Suasana gedung bertingkat dan perumahan padat penduduk di Jakarta, Rabu (31/3/2021). - Bisnis/Eusebio Chrysnamurti.

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah optimistis pemulihan ekonomi akan terjadi meski ketidakpastian masih ada dan Covid-19 belum mereda. Di sisi lain berbagai sektor seperti konsumsi, pertambangan dan industri menunjukkan tren pelemahan.

Berdasarkan laporan Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan yang berjudul Tinjauan Ekonomi, Keuangan, dan Fiskal; Menjaga Optimisme Pemulihan Ekonomi Edisi I 2021, indeks sektor konsumsi melemah sebesar 6,92 persen secara year to date (ytd) sejalan dengan masih melemahnya konsumsi masyarakat.

“Hal tersebut merupakan dampak dari melemahnya beberapa indikator ekonomi di sektor konsumsi. Indikator pertama yang dicermati oleh investor adalah consumer confidence [keyakinan konsumen] di mana pada bulan Februari 2021 mencapai angka 85,8, atau lebih rendah bila dibandingkan dengan Desember 2020 yang sebesar 96,5,” tulis laporan tersebut.

Indikator selanjutnya adalah penjualan ritel bulan Januari 2021 yang masih mengalami penurunan sebesar 16,5 persen secara tahunan.

Secara umum, kinerja indeks sektor konsumsi memang mengalami tekanan yang cukup kuat sepanjang pandemi Covid-19. Sepanjang tahun 2020 indeks sektor konsumsi juga mengalami pelemahan sebesar 10,74 persen.

Indeks sektor pertambangan pun mengalami pembalikan arah setelah menguat tajam pada triwulan IV/2020. Bila pada triwulan IV/2020 kinerja indeks sektor pertambangan mengalami penguatan paling tajam, yaitu sebesar 41,73 persen secara kuartalan, triwulan 1/2021 mengalami pelemahan, yaitu sebesar 6,08 persen.

“Pelemahan ini diduga sebagai dampak dari aksi ambil untung investor di saham-saham sektor pertambangan. Selain itu, melemahnya harga minyak mentah yang kembali di bawah US$60 per barel juga menjadi sentimen positif di sektor pertambangan,” terang laporan BKF.

Melemahnya harga minyak mentah tersebut didorong oleh rencana penambahan produksi oleh negara-negara anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries Plus.

Selain itu, kenaikan stok minyak mentah Amerika Serikat dan ancaman lockdown di sejumlah negara di kawasan Eropa menjadi penekan harga minyak dan indeks sektor pertambangan.

Sedangkan sektor aneka industri menjadi salah satu yang mengalami tekanan paling kuat selama tahun 2021 atau minus 5,64 persen. Melemahnya sektor ini meneruskan pelemahan yang terjadi sepanjang tahun 2020 silam yang negatif 11.67 persen

Melemahnya kinerja eka industri utamanya didorong oleh penurunan kinerja harga saham pada emiten-emiten otomotif. Salah satu penyebabnya adalah adanya pembatasan mobilitas yang menekan penjualan dan kinerja perusahan-perusahaan otomotif.

“Penurunan kinerja bidang otomotif tercermin dari penurunan penjualan kendaraan bermotor yang cukup tajam. Pada bulan Februari 2021, penjualan mobil mengalami penurunan sebesar 38,2 persen yoy [year on year/secara tahunan],” papar laporan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak Pertumbuhan Ekonomi badan kebijakan fiskal
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top