Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Properti Gated Community Picu Ketimpangan Sosial

Permukiman dengan pola gated community memicu ketimpangan sosial di wilayah perkotaan. Gated community dipahami sebagai permukiman tertutup sejak awal keberadaan mereka dan dirancang untuk memberikan keamanan kepada penghuninya dan mencegah penetrasi oleh non-penghuni.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 23 Maret 2021  |  19:13 WIB
Ilustrasi kompleks perumahan. - Bisnis.com
Ilustrasi kompleks perumahan. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Gated community memicu ketimpangan sosial perkotaan dan mendorong polarisasi sosial, menurut peneliti dari Universitas Queensland Australia Sonia Roitman.

Dia menjelaskan gated community adalah permukiman tertutup yang secara sukarela ditempati oleh kelompok sosial yang homogen dengan ruang publik diprivatisasi dengan membatasi akses melalui penerapan perangkat keamanan.

"Gated community mewujudkan ketimpangan dan mereproduksi ketidaksetaraan," kata Sonia yang merupakan dosen senior di School of Earth and Environmental Sciences di Universitas Queensland dalam webinar Gated Communities and Inequality in Indonesia pada Selasa (23/3/2021).

Gated community dipahami sebagai permukiman tertutup sejak awal keberadaan mereka dan dirancang untuk memberikan keamanan kepada penghuninya dan mencegah penetrasi oleh non-penghuni.

Rumah mereka berkualitas tinggi dan memiliki layanan serta fasilitas yang hanya dapat digunakan oleh penghuninya, yang membayar biaya pemeliharaan wajib secara rutin. Mereka memiliki badan pengatur swasta yang menerapkan aturan internal tentang perilaku dan konstruksi.

Berdasarkan studi kasus yang dilakukan di Jakarta dan Yogyakarta, Sonia menuturkan tidak ada data yang jelas mengenai jumlah gated community di Indonesia.

Penelitian itu menunjukkan gated community di Indonesia beragam serta kurangnya data terkait gated community dan perkembangannya.

Penelitian itu juga didukung sejumlah peneliti Indonesia seperti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas Tarumanegara, dan Universitas Gadjah Mada.

Sonia menuturkan instrumen-instrumen perencanaan inklusi ada, tetapi tidak berkontribusi pada kepentingan publik. Revisi atau perbaikan terkait kontribusi dan tanggung jawab sektor swasta terhadap kota mungkin diperlukan.

Dia mengutip Gurran dkk pada 2018 bahwa perencanaan inklusif mengacu pada spektrum model dan pendekatan untuk mengamankan atau memanfaatkan perumahan yang terjangkau melalui proses perencanaan dan pembangunan perkotaan.

Instrumen perencanaan inklusif mendorong inklusi sosial dan distribusi ulang sumber daya. Instrumen tersebut bisa dalam bentuk undang-undang, peraturan atau program.

Sonia menuturkan di tingkat kota, terdapat sejumlah dampak dari perkembangan gated community antara lain mencegah pertemuan sosial dan integrasi di kota, menciptakan ruang eksklusif, memprivatisasi ruang kota dan mendorong nilai-nilai yang lebih individualistis, serta memecah ruang kota dan menghambat mobilitas kendaraan.

Gated community juga membuat ketimpangan pendapatan lebih terlihat di kota dan bahkan berkontribusi pada berbagai ketimpangan yang berkembang. "Keamanan menjadi komoditas hanya bagi mereka yang mampu membayarnya, tidak mendukung kota inklusif."

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bisnis properti permukiman

Sumber : Antara

Editor : M. Syahran W. Lubis

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top