Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Blak-blakan Erick Thohir Soal SWF dan Upaya Gaet Tesla

SWF akan menarik minat investor luar negeri untuk menanamkan modalnya di Indonesia, karena melihat potensi pasar yang besar dan kekayaan sumber daya alam.
Menteri BUMN Erick Thohir di Bali meninjau SPKLU PLN untuk pengisian energi mobil listrik./Istimewa
Menteri BUMN Erick Thohir di Bali meninjau SPKLU PLN untuk pengisian energi mobil listrik./Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri BUMN Erick Thohir menyampaikan salah satu program Indonesia Tumbuh, yakni mendirikan Sovereign Wealth Fund (SWF) dan mengembangkan investasi baterai kendaraan listrik melalui Indonesia Holding Battery (IBH).

Erick Thohir menyampaikan pendirian SWF atau indonesia investment authority (INA), melalui modal. SWF akan menarik minat investor luar negeri untuk menanamkan modalnya di Indonesia, karena melihat potensi pasar yang besar dan kekayaan sumber daya alam.

"SWF didirikan melalui modal, bukan hutang lagi. Kami mengundang partner luar negeri yang percaya pada pertumbuhan ekonomi indonesia di masa post covid. Kami market besar dan sda punya kekuatan tersendiri," paparnya dalam acara virtual, Selasa (23/2/2021).

Oleh karena itu, program-program pembangunan Indonesia mengatur kembali modal bukan hutang melalui INA ini. Komitmen awal investasi di SWF sudah mencapai US$9,5 miliar dolar.

"Pemerintah pun menargetkan target investasi lebih tinggi lagi pada 2021 dan 2022. Kami sudah road show ke beberapa negara gimana partner-patner dari luar negeri bisa percaya pertumbuhan indonesia ke depan," imbuhnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo memperkirakan Sovereign Wealth Fund (SWF) atau Indonesia Investment Authority (INA) mampu meraup dana sebesar US$10 Miliar atau sekitar Rp140,38 triliun (kurs Rp14.038 per US$1) dalam waktu enam bulan.

Hal itu disampaikan presiden dalam pertemuan dengan pemimpin redaksi sejumlah media massa di Istana Merdeka, Rabu (17/2/2021). Menurutnya, pendanaan itu bisa didapatkan baik dari dalam maupun luar negeri.

Bahkan, Jokowi memperkirakan nilai pendanaan yang dihimpun INA mampu mencapai Rp2.808 triliun dalam kurun dua tahun ke depan.

"Perkiraan saya, INA bisa meraup dana sebesar US$10 miliar baik dari dalam negeri maupun luar negeri dalam waktu 6 bulan. Dalam 2 tahun, US$200 miliar," ujarnya.

Dengan realisasi itu, jelas Jokowi, problem pendanaan yang selama ini mengadang bisa diselesaikan. Dengan kehadiran INA, dia meyakini pengembangan proyek strategis bisa direalisasikan.

Salah satu strategis yang bisa diwujudkan, kata Jokowi, adalah lumbung pangan atau food estate. Selain itu, jelas dia, pembangkit listrik tenaga air atau hydropower juga menjadi proyek strategis lain yang bisa didanai oleh INA.

"Dengan dana sebesar itu, banyak hal yang bisa kita garap. Selama ini persoalan kita, banyak proyek, tetapi dana tidak ada. Nah, INA menjadi bridging untuk mewujudkan proyek-proyek strategis yang kita rencanakan," jelasnya.

BATERAI KENDARAAN LISTRIK

Pemerintah juga terus mengejar komitmen perusahaan-perusahaan multinasional seperti Tesla dalam pengembangan baterai kendaraan listrik atau EV Battery di Indonesia.

Sebelumnya, Indonesia Battery Holding (IBH) telah mencapai kesepakatan awal dengan LG Chem dan CATL.

Menteri BUMN Erick Thohir menuturkan pengembangan industri EV battery sebagai bagian dari program Indonesia tumbuh. Pasalnya, Indonesia merupakan negara dengan potensi kebutuhan EV battery tinggi di masa depan sekaligus negara penghasil bahan-bahannya.

"Kami tak lupa menjaga potensi daripada pengembangan EV battery, Indonesia salah satu negara yang punya kebutuhan EV battery ini, menjadi yang sangat dibutuhkan. Indonesia juga salah satu produsen nikel terbesar, juga salah satu produsen terbesar untuk bauksit, copper juga termasuk," katanya dalam diskusi virtual, Selasa (23/2/2021).

Dengan demikian, melihat berbagai komponen dasar membuat EV battery dapat ada di Indonesia membuat pemerintah agresif mengejar pengembangan industri baterai mobil listrik dalam negeri ini.

Pemerintah juga sudah mencapai kesepakatan dan melakukan penandatanganan kerja sama konsorsium BUMN dalam pengembangan EV battery ini. Sejumlah BUMn yang terlibat yakni PT Pertamina, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), Mind.Id, serta PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM).

"Kami juga terus mengadakan pembicaraan dengan perusahaan-perusahaan besar lainnya dari Jepang dari Amerika Serikat, termasuk juga yang sering dibicarakan di publik Tesla," urainya.

Sementara itu, Indonesia sudah membuat konsorsium bentukan BUMN yang dinamai Indonesia Battery Corporation dan menandatangani komitmen kerja sama pengembangan EV battery di Indonesia bersama dengan CATL (Contemporary Amperex Technology) produsen baterai asal China dan LG Chem produsen baterai asal Korea Selatan.

"Hal-hal ini dapat membuat Indonesia tumbuh dengan program yang jelas seperti EV battery ini juga pertumbuhan Indonesia tak hanya untuk 1 tahun tapi untuk 20 tahun yang akan datang berdasarkan kekuatan sumber daya alam Indonesia," katanya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper