Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pelaku Usaha Optimistis Relaksasi Kredit Dorong Ekonomi, tetapi ...

Meski OJK telah menurunkan risiko pada sektor yang disasar, bukan tidak mungkin pihak perbankan urung menyalurkan kredit.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 19 Februari 2021  |  19:11 WIB
Karyawan melintas di dekat logo Bank Indonesia di Jakarta, Senin (3/2 - 2020).
Karyawan melintas di dekat logo Bank Indonesia di Jakarta, Senin (3/2 - 2020).

Bisnis.com, JAKARTA — Kalangan pengusaha menyambut positif relaksasi kebijakan prudensial sektor jasa keuangan secara temporer yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mendorong pertumbuhan kredit yang lebih cepat. Langkah tersebut dinilai sejalan dengan upaya untuk mendorong konsumsi masyarakat sehingga bisa memacu pemulihan.

“Saya rasa ini langkah yang positif dan bisa mendorong konsumsi masyarakat,” kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani saat dihubungi, Jumat (19/2/2021).

Adapun relaksasi kebijakan prudensial ini berbentuk penurunan Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) yang dikaitkan dengan Loan-to-Value Ratio dan Profil Risiko serta Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) sebagai upaya menurunkan beban cost of regulation. Untuk relaksasi kredit perbankan terdapat tiga sektor penting yang disasar, yakni kredit kendaraan bermotor, kredit beragunan rumah tinggal, dan sektor kredit kesehatan.

Meski bisa mendorong konsumsi, Hariyadi memberi catatan soal kesiapan perbankan dan lembaga pembiayaan dalam implementasi kebijakan ini. Meski OJK telah menurunkan risiko pada sektor yang disasar, Hariyadi mengatakan bukan tak mungkin pihak perbankan urung menyalurkan kredit.

“Sekarang pertanyaannya apakah perbankan ini langsung mau memberi kredit? Terkadang mereka tetap memandang penyalurannya berisiko meski sudah ada stimulus,” lanjutnya.

Mengingat relaksasi kebijakan prudensial ini baru mulai berlaku pada 1 Maret 2021, Hariyadi memperkirakan daya dorongnya terhadap perekonomian baru akan terasa pada kuartal kedua. Dia menyebutkan bahwa minat masyarakat untuk mengajukan kredit konsumsi tetap akan positif seiring dengan target 40 juta orang yang divaksin sampai April. 

Sementara itu, Wakil Ketua Umum bidang Hubungan Internasional Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Shinta W. Kamdani berpendapat pertumbuhan kredit konsumsi belum tentu terdongrak dengan kehadiran stimulus ini selama pandemi karena masalah intinya belum terkoreksi. Yakni ketidakpastian dari sisi peningkatan produktivitas dan kondisi pendapatan jangka pendek dan menengah masyarakat yang membuat masyarakat menengah ke atas berbelanja selama pandemi.

“Meskipun demikian, terlepas dari proyeksi keberhasilan kebijakannya untuk mendongkrak pertumbuhan kredit konsumsi, arah kebijakannya sendiri cukup rasional dan sudah suportif untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi melalui konsumsi,” kata dia.

Di sisi lain, Shinta mengatakan bahwa akan lebih bermanfaat jika OJK tidak hanya fokus pada pemberian stimulus kredit konsumsi, tetapi juga menyasar pada koreksi suku bunga pinjaman korporasi agar lebih terjangkau sehingga pertumbuhan kredit investasi dan usaha bisa lebih tinggi.

"Meskipun konsumsi menjadi pendorong pertumbuhan besar bagi Indonesia, pertumbuhan dan pemulihan ekonomi tidak akan sustainable tanpa peningkatan kegiatan ekonomi produktif yang secara langsung meningkatkan pendapatan dan daya beli serta confidence konsumsi masyarakat,” lanjutnya.

Oleh karena itu, dia menilai kondisi ideal saat pandemi adalah ketika kredit produktif turut tumbuh, tak hanya kredit konsumtif. Hal ini pun sejalan dengan penurunan suku bunga BI sepanjang pandemi yang diharapkan menjadi pendorong untuk peningkatan investasi sehingga roda perekonomian terus bergerak.

“Kami harap ada langkah lain dari OJK yang bisa menstimulasi pertumbuhan kredit  yang sifatnya lebih produktif, apalagi saat ini banyak sekali pelaku usaha yang mati-matian bertahan dan kesulitan dana tetapi tidak berani meminjam atau mengajukan kredit ke bank karena biaya pinjaman  tidak affordable,” kata Shinta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kredit suku bunga acuan
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top