Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dipimpin Ridha Wirakusumah, Jokowi Ingin INA Jadi SWF Kelas Dunia

Jokowi mengatakan SWF Indonesia (INA) bertugas untuk meningkatkan dan mengoptimalkan nilai aset negara secara jangka panjang dan menyediakan alternatif pembiayaan bagi pembangunan nasional.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 16 Februari 2021  |  12:07 WIB
Presiden Joko Widodo dalam Konferensi Tingkat Tinggi Climate Adaptation Summit (KTT CAS) 2021, pada Senin (25/1/2021). - Biro Pers Sekretariat Presiden
Presiden Joko Widodo dalam Konferensi Tingkat Tinggi Climate Adaptation Summit (KTT CAS) 2021, pada Senin (25/1/2021). - Biro Pers Sekretariat Presiden

Bisnis.com, JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) berharap Lembaga Pengelola Investasi atau yang dikenal dengan Indonesia Investment Authority (INA) bisa menjadi Sovereign Wealth Fund kelas dunia.

"Dengan fondasi hukum dan dukungan politik yang kuat serta Dewas dan jajaran direksi yang hebat dan jejaring internasional yang kuat saya meyakini, INA akan memperoleh kepercayaan nasional dan internasional dan mampu membuat INA sebagai Sovereign Wealth Fund kelas dunia," kata Jokowi saat memperkenalkan jajaran Dewas Pengawas dan Dewan Direktur LPI di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (16/2/2021).

Untuk mewujudkan harapan tersebut, Jokowi pada hari ini telah mengumumkan jajaran Dewan Direktur SWF Indonesia yang dipimpin oleh Ridha Wirakusumah. Selain itu, Jokowi juga menunjuk Menteri Keuangan Sri Mulyani sebagai Ketua Dewan Pengawas SWF Indonesia.

Kepala Negara juga berharap kementerian/lembaga negara lainnya dapat mendukung penuh kehadiran INA. "Harus inovatif, harus berani mengambil keputusan yang out of the box dengan tata kelola yang baik. Indonesia harus mempunyai alternatif pembiayaan yang memadai untuk akselerasi menuju Indonesia maju," ujar Jokowi.

Lebih lanjut, Jokowi menyatakan pembentukan SWF Indonesia ini sebenarnya sangat terlambat jika dibandingkan dengan negara-negara lainnya.

Pasalnya, negara-negara seperti Uni Emirat Arab, China, Norwegia, Saudi Arabia dan Qatar telah memiliki SWF sejak 30 atau 40 tahun yang lalu dan telah memiliki akumulasi dana yang besar untuk pembiayaan pembangunan.

"Walaupun lahir belakangan, tapi tidak ada kata terlambat. Saya meyakini INA mampu mengejar ketertinggalannya dan mampu memperoleh kepercayaan nasional dan internasional," kata Jokowi.

Pembentukan INA, imbuhnya, mempunyai dasar hukum yang kuat diperintah langsung oleh UU yaitu UU Cipta Kerja. Kelembagaan dan cara kerjanya juga jelas sebagaimana diatur dalam PP 74/2020.

Jokowi mengatakan INA bertugas untuk meningkatkan dan mengoptimalkan nilai aset negara secara jangka panjang dan menyediakan alternatif pembiayaan bagi pembangunan nasional yang berkelanjutan.

"Melalui keberadaan INA kita akan mengurangi kesenjangan kemampuan pendanaan domestik dengan kebutuhan pembiayaan pembangunan. INA akan menjadi trust strategis bagi para investor baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri agar tersedia pembiayaan yang cukup bagi program pembangunan khususnya program pembangunan infrastruktur nasional," ungkap Jokowi.

Berikut ini susunan lengkap Dewan Pengawas dan Dewan Direktur LPI (INA):

Dewan Pengawas:

Menteri Keuangan Sri Mulyani Ketua Dewan Pengawas

Menteri BUMN Erick Thohir Anggota Dewan Pengawas

Haryanto Sahari Anggota Dewan Pengawas

Yozua Makes Anggota Dewan Pengawas

Darwin Cyril Nurhadi Anggota Dewas

 

Dewan Direktur:

Ridha Wirakusumah Ketua Dewan Direktur

Arief Budiman Wakil Ketua Dewan Direktur/Direktur Investasi

Stefanus Ade Hadiwidjaja Direktur Investasi

Marita Alisjahbana Direktur Risiko

Eddy Purwanto Direktur Keuangan

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Jokowi lpi SWF Indonesia
Editor : Fitri Sartina Dewi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top