Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Program Vaksinasi Gotong Royong Berpotensi Mundur, Ini Alasannya

Pelaku usaha sendiri telah melakukan komunikasi sejak Oktober 2020 dengan beberapa produsen, antara lain AstraZaneca, Pfizer BioNTech, dan Moderna.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 16 Februari 2021  |  16:33 WIB
Juru bicara vaksinasi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr Siti Nadia Tarmizi. (FOTO ANTARA - Muhammad Zulfikar)
Juru bicara vaksinasi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr Siti Nadia Tarmizi. (FOTO ANTARA - Muhammad Zulfikar)

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaksanaan program vaksinasi gotong royong berpotensi mundur dari jadwal yang telah diperkirakan sekitar Maret 2021.

Pasalnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) saat ini baru akan menunjuk PT Bio Farma (Persero) untuk menjadi importir tunggal dalam pengadaannya. 

Juru Bicara Kementerian Kesehatan untuk Vaksinasi Covid-19 Siti Nadia Tarmidzi mengatakan impor vaksin untuk program vaksinasi Gotong Royong oleh Bio Farma masih menunggu penunjukkan dari pemerintah dan dipastikan tidak akan dilakukan dalam waktu dekat.

"Sepenuhnya untuk penyediaan akan ditunjuk Bio Farma sebagai importir tunggal demi mencegah vaksin palsu, dan ini tidak akan dalam waktu dekat," ujar Nadia kepada Bisnis, Selasa (16/2/2021).

Adapun, importasi vaksin untuk program vaksinasi Gotong Royong harus menanti rampungnya regulasi terkait dari Kemenkes yang sejauh ini masih melakukan penyusunan di tahap awal. Belum ada informasi detil mengenai kapan regulasi tersebut selesai disusun.

Sebelumnya, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Rosan Roeslani memperkirakan kebijakan mengenai pelaksanaan program vaksinasi gotong Royong diperkirakan rampung dikerjakan pemerintah pada pekan ketiga Februari 2021.

Dengan demikian, lanjutnya, pendataan yang dilakukan Kadin harus rampung selambat-lambatnya akhir Februari 2021.

Dia berharap program vaksinasi gotong royong bisa mulai dilaksanakan pada Maret 2021 dengan catatan semua vaksin yang digunakan akan menunggu izin penggunaan darurat (emergency use authorization/EUA) dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

Untuk program tersebut, diperlukan sekitar 60 juta dosis vaksin Covid-19 untuk memenuhi kebutuhan program tersebut dengan perkiraan harga yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk setiap karyawan kurang dari Rp1 juta.

Adapun, jumlah yang akan divaksinasi sekitar 25-30 juta orang dengan total vaksin yang akan diimpor sekitar 60 juta dosis. 

Pemerintah mengatakan merek vaksin untuk program vaksinasi gotong royong berbeda dengan yang didatangkan oleh pemerintah. Adapun, merek vaksin yang didatangkan pemerintah adalah CoronaVac buatan Sinovac, Novavax, AstraZaneca, Pfizer, dan Moderna.

Pelaku usaha sendiri telah melakukan komunikasi sejak Oktober 2020 dengan beberapa produsen, antara lain AstraZaneca, Pfizer BioNTech, Moderna, dan salah satu yang tidak masuk ke dalam radar pemerintah, yakni Sputnik dari Rusia.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kadin kemenkes Vaksin Covid-19
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top