Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kontribusi Sektor Energi terhadap Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca 38 Persen

Sektor energi diharapkan dapat menurunkan emisi sebesar 314 juta ton Co2 dengan kemampuan sendiri dan 398 juta ton Co2 dengan bantuan internasional.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 28 Januari 2021  |  16:16 WIB
PLTS Terapung Cirata 145 MW yang terbesar di Asia Tenggara - BKPM
PLTS Terapung Cirata 145 MW yang terbesar di Asia Tenggara - BKPM

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memproyeksikan sektor energi bakal berkontribusi sebesar 38 persen dalam menurunkan emisi gas rumah kaca.

Menteri ESDM Arifin Tasrif menjelaskan bahwa pemerintah menetapkan target penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) pada 2030 sebesar 834 juta ton Co2.

Dia menuturkan bahwa sektor energi diharapkan dapat menurunkan emisi sebesar 314 juta ton Co2 dengan kemampuan sendiri dan 398 juta ton Co2 dengan bantuan internasional.

“Kontribusi sektor energi dalam menurunkan emisi sebesar 38 persen dari target penurunan nasional,” ujarnya dalam webinar Sustainable Energy: Grean and Clean, Kamis (28/1/2021).

Berdasarkan realisasi hingga 2020, penurunan emisi Co2 sektor energi melebihi target. Tahun lalu, sektor energi berhasil menurunkan emisi Co2 sebesar 64,4 juta ton atau 111 persen dari target sebesar 58 juta ton.

Program pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT) berkontribusi menurunkan 34 juta ton dan efisiensi energi berkontribusi menurunkan 13 juta ton yang menjadi kontributor utama aksi mitigasi.

Menurut Arifin, untuk mengejar target energi tersebut dicapai dengan upaya mitigasi yaitu pengembangan energi terbarukan, pelaksanaan konservasi energi, penerapan teknologi energi bersih di pembangkit listrik, fuel switching, dan reklamasi pascatambang.

Dia mengatakan bahwa potensi EBT Indonesia sekitar 417,8 gigawatt (GW). Namun, sampai saat ini pemanfaatannya baru mencapai 10,4 GW atau sekitar 2,5 persen dari total potensi.

Adapun, potensi EBT terbesar yaitu bersumber dari tenaga surya sekitar 208 GW, disusul tenaga air 75 GW, bayu 61 GW, bioenergi 33 GW, panas bumi 24 GW, dan samudra 18 GW.

Namun, kata Arifin, pemanfaatan EBT terbesar bukan dari tenaga surya, melainkan tenaga air sekitar 6.100 MW, disusul panas bumi sekitar 2.100 MW, bioenergi sebesar 1.900 MW, bayu 154 MW.

Pemerintah menetapkan target bahwa porsi EBT dalam bauran energi nasional 2025 sebesar 23 persen. Namun, realisasi hingga 2020 baru mencapai 11 persen. Ke depan, target EBT akan semakin ditingkatkan menjadi 31 persen pada 2050.

“Pemerintah optimistis target EBT tersebut dapat tercapai dengan berbagai upaya, salah satunya penyempurnaan kebijakan harga EBT yang saat ini siap untuk diterbitkan,” ungkapnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

energi terbarukan emisi gas rumah kaca
Editor : Zufrizal

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top