Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Suku Bunga Rendah Bikin Harga Properti di Singapura Naik di Tengah Pandemi

Singapura bergabung dengan negara-negara dari Australia dan Selandia Baru hingga Inggris dan AS di mana pasar properti melonjak selama krisis kesehatan, karena tingkat suku bunga terendah memicu permintaan.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 22 Januari 2021  |  09:08 WIB
Properti komersial di kawasan pusat bisnis Singapura./Bloomberg - Nicky Loh
Properti komersial di kawasan pusat bisnis Singapura./Bloomberg - Nicky Loh

Bisnis.com, JAKARTA - Harga rumah Singapura naik paling tinggi dalam lebih dari dua tahun pada kuartal terakhir tahun 2020, karena spekulasi meningkat bahwa pemerintah mungkin akan memberlakukan langkah-langkah untuk mendinginkan pasar.

Urban Redevelopment Authority mencatat nilai properti meningkat 2,1 persen pada kuartal IV/2020. Angka ini tidak berubah dari perkiraan awal bulan ini dan ini merupakan kenaikan terbesar sejak kuartal kedua 2018, ketika harga naik 3,4 persen.

Kenaikan harga kuartal ketiga berturut-turut menggarisbawahi ketahanan pasar properti Singapura selama resesi terburuk di kota itu. Penjualan rumah juga meningkat, naik terbesar dalam enam bulan di bulan Desember.

Untuk seluruh tahun 2020, harga apartemen di negara pulau itu meningkat sebesar 2,2 persen, atau kurang dari 2,5 persen pada tahun 2019. Pada 2018, harga apartemen sempat tumbuh lebih tinggi sebesar 7,9 persen.

Pemulihan harga tersebut menentang kekhawatiran bahwa pasar perumahan dapat merosot karena pandemi virus Corona yang memaksa perusahaan untuk memangkas pekerjaan dan upah.

Sebaliknya, Singapura bergabung dengan negara-negara dari Australia dan Selandia Baru hingga Inggris dan AS di mana pasar properti melonjak selama krisis kesehatan, karena tingkat suku bunga terendah memicu permintaan.

Komentar terbaru dari pemerintah Singapura telah mendorong analis berspekulasi bahwa pihak berwenang mungkin mempertimbangkan serangkaian kebijakan untuk menenangkan pasar, sebuah langkah pernah dibuat pada Juli 2018.

Wakil Perdana Menteri Heng Swee Keat dan Menteri Pembangunan Nasional Desmond Lee mengatakan bahwa pemerintah sedang memantau perkembangan dengan cermat. Heng, yang juga menteri keuangan, mengatakan pihak berwenang tidak ingin melihat pasar properti berjalan lebih cepat dari fundamental ekonomi yang mendasarinya.

Pemerintah dapat mempertimbangkan untuk menaikkan bea materai, terutama untuk investor dan orang asing, karena alat tersebut telah memperlambat laju kenaikan harga di masa lalu, ungkap DBS Group Holdings Ltd. dalam analisanya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

properti singapura harga rumah

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top