Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Hutan di Bumi Seluas Negara Jerman Lenyap dalam 1 Dekade Terakhir

Amazon Brasil dan Cerrado, Amazon Bolivia, Paraguay, Argentina, Madagaskar, bersama dengan Sumatra dan Kalimantan di Indonesia dan Malaysia termasuk di antara yang terkena dampak paling parah.
Zufrizal
Zufrizal - Bisnis.com 13 Januari 2021  |  08:17 WIB
Titik api pemicu kebakaran hutan dan lahan. - Ilustrasi
Titik api pemicu kebakaran hutan dan lahan. - Ilustrasi

Bisnis.com, PARIS — Organisasi konservasi WWF pada Rabu (13/1/2021) menyebutkan bahwa lebih dari 43 juta hektare—area yang lebih besar dari Jerman—hutan telah hilang dalam lebih dari satu dekade hanya dalam beberapa titik deforestasi.

Petak hutan terus diratakan setiap tahun—terutama karena pertanian skala industri—karena daerah yang kaya keanekaragaman hayati ditebangi untuk menciptakan ruang bagi ternak dan tanaman.

Analisis WWF seperti dikutip www.france24.com dari AFP, Rabu (13/1/2021), menemukan bahwa hanya 29 lokasi di Amerika Selatan, Afrika, dan Asia Tenggara yang bertanggung jawab atas lebih dari separuh hilangnya hutan global.

Amazon Brasil dan Cerrado, Amazon Bolivia, Paraguay, Argentina, Madagaskar, bersama dengan Sumatra dan Kalimantan di Indonesia dan Malaysia termasuk di antara yang terkena dampak paling parah.

Di wilayah Cerrado Brasil, rumah bagi 5 persen hewan dan tumbuhan di planet ini, lahan telah dibersihkan dengan cepat untuk produksi kedelai dan ternak, yang menyebabkan hilangnya 32,8 persen kawasan hutan 2004—2017.

Panel Antar-Pemerintah PBB tentang Perubahan Iklim mengeluarkan laporan terobosan tentang penggunaan lahan pada 2019, ketika ia menguraikan serangkaian trade-off yang membayangi dalam penggunaan lahan.

Pada tahun yang sama, panel keanekaragaman hayati PBB mengatakan bahwa 75 persen dari seluruh daratan di bumi telah "rusak parah" oleh aktivitas manusia.

Hutan adalah penyerap karbon yang sangat besar, bersama dengan vegetasi lain dan tanah yang menyedot sekitar sepertiga dari semua polusi karbon yang dihasilkan manusia setiap tahun. Namun, mereka terus menghilang dengan cepat, mengancam hilangnya keanekaragaman hayati penting Bumi yang tidak dapat diperbaiki.

Ketika spesies liar menemukan ruang hidup mereka semakin menyusut setiap tahun, risiko terulangnya penyakit zoonosis—seperti pandemi Covid-19—melompat ke manusia makin tinggi.

"Kita harus mengatasi konsumsi yang berlebihan dan memberikan nilai yang lebih besar pada kesehatan dan alam daripada penekanan yang berlebihan saat ini pada pertumbuhan ekonomi dan keuntungan finansial dengan segala cara," kata Fran Raymond Price, Kepala Praktisi Hutan WWF International.

"Ini demi kepentingan terbaik umat manusia: risiko munculnya penyakit baru lebih tinggi di kawasan hutan tropis yang mengalami perubahan tata guna lahan."

Price memperingatkan bahwa jika deforestasi tidak segera diatasi, "Kita bisa kehilangan kesempatan untuk membantu mencegah pandemi berikutnya."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hutan wwf
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top