Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

AS Dominasi Ekspor Udang Indonesia, Apa Kendala Perluasan Pasar?

Dominasi ekspor udang ke AS dipandang bukanlah hal yang baik dari segi pemasaran sehingga Indonesia harus bisa memperluas pasar agar tak tergantung pada AS semata.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 11 Januari 2021  |  12:40 WIB
Ilustrasi udang
Ilustrasi udang

Bisnis.com, JAKARTA – Ekspor udang Indonesia sepanjang 2020 diproyeksi naik dibandingkan dengan 2019. Meski demikian, sebagian besar ekspor baru tertuju ke pasar Amerika Serikat.

Ketua Forum Udang Indonesia (FUI) Budhi Wibowo menjelaskan hampir 65 persen ekspor udang dipasarkan ke pasar AS. Sementara sisanya banyak  diekspor ke Jepang dan China. Sampai November 2020, ekspor udang dan olahannya tercatat mencapai US$1,86 miliar, naik 8,77 persen dibandingkan periode yang sama pada 2019 sebesar US$1,71 miliar.

Besarnya ekspor ke AS dipandang Budhi bukanlah hal yang baik dari segi pemasaran. Menurutnya, Indonesia harus bisa memperluas pasar agar tak tergantung pada AS semata.

“Ekspor kita 65 persen ke Amerika Serikat, dalam strategi pemasaran sebenarnya tidak boleh. Namun mereka satu-satunya yang mampu membeli udang premium kita. Kalau jual ke negara lain hitungannya rugi,” kata Budhi dalam konferensi pers virtual, Minggu (10/1/2021).

Dari total nilai pasar udang global yang mencapai US$39 miliar pada 2017, Budhi menjelaskan bahwa pangsa pasar Indonesia hanya berkisar 4,3 persen. Guna meningkatkan pangsa pasar, dia mengatakan ekspor ke Amerika Serikat perlu dipertahankan dan diiringi dengan perluasan ke negara-negara lain.

Dia menjelaskan peluang terbuka datang dari Jepang yang tiap tahun menjadi pasar untuk 17 persen ekspor udang Indonesia. Ekspor ke Negeri Sakura selama ini didominasi oleh produk udang kupas dengan nilai tambah yang minim. Dengan demikian, peluang peningkatan ekspor bisa digenjot dari produk olahan.

“Ekspor ke Eropa yang selama ini pangsanya masih 1,2 persen juga besar. Kami harap dengan perjanjian dagang yang tengah dibahas bisa memperbesar peluang Indonesia,” kata dia.

Selain berupaya meningkatkan nilai ekspor dengan produk olahan, Budhi juga mengatakan peningkatan produksi di dalam negeri perlu dilakukan agar harga udang Indonesia bisa makin bersaing dan tidak melulu bermain di pasar premium. Adapun harga rata-rata udang ekspor Indonesia pada 2019 berkisar di angka US$8,2 per kilogram.

Pelaku usaha sendiri optimistis produksi udang nasional bisa meningkat untuk mengejar target peningkatan ekspor 250 persen pada 2024. Tambak intensif diproyeksi bertambah dari 6.000 hektare menjadi 7.000 ha pada 2024 sehingga produktivitas naik dari 30 ton per ha menjadi 40 ton per ha.

Sementara untuk tambak semi-intensif diperkirakan bertambah dari 16.000 ha menjadi 30.000 ha dengan produktivitas yang naik dari 7 ton per ha menjadi 8 ton per ha. Adapun untuk tambak tradisional, produktivitas diproyeksi naik dari 400 kilogram per ha menjadi 800 kilogram per ha.

Dengan adanya pertambahan luas tambak dan produktivitas ini, total produksi udang budidaya bakal tumbuh dari 412.000 ton pada 2019 menjadi 748.000 ton pada 2024 di mana 530.000 ton di antaranya bisa diekspor untuk mewujudkan target pertumbuhan 250 persen selama 2019 sampai 2024.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

amerika serikat ekspor udang diversifikasi ekspor
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top