Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pertumbuhan Industri AMDK Terdorong Permintaan Galon 

Pandemi Covid-19 memukul rata-rata utilitas pabrikan ke level 40 persen. Hal tersebut utamanya disebabkan oleh anjloknya permintaan air minum dalam kemasan gelas. 
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 07 Januari 2021  |  16:35 WIB
Ilustrasi air minum dalam kemasan
Ilustrasi air minum dalam kemasan

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (Aspadin) menyatakan industri air minum dalam kemasan (AMDK) nasional optimistis masih dapat mencatatkan pertumbuhan volume produksi yang positif pada 2020.

Seperti diketahui, hampir semua jenis industri minuman pada 2020 mencatatkan pertumbuhan negatif. 

Ketua Umum Aspadin Rachmat Hidayat mengatakan hal tersebut disebabkan oleh jenis kemasan yang hanya ada pada industri AMDK, yakni kemasan galon. Ukuran galon memiliki volume sampai 19 liter, sedangkan ukuran botol terbesar hanya mencapai 2,5 liter. 

"Secara portofolio galon menyumbang hampir 70 persen dari total volume, dan galon tumbuh baik [pada 2020]. Itu [peningkatan permintaan galon] bisa mengkompensasi, meskipun tidak jauh, turunnya [permintaan] kemasan-kemasan yang lain," katanya kepada Bisnis, Kamis (7/1/2021). 

Rachmat optimistis pertumbuhan permintaan galon membuat volume produksi AMDK nasional naik sekitar 1 persen secara tahunan pada 2020 menjadi mendekati 30 miliar liter. Adapun, realisasi produksi industri AMDK mencapai sekitar 29 miliar liter pada 2019. 

Walaupun volume produksi naik, Rachmat menilai nilai produksi industri AMDK pada 2020 diramal stagnan dan cenderung menurun. Pasalnya, margin yang didapatkan pabrikan dari produksi galon tidak sebesar dari kemasan lainnya. 

Pandemi Covid-19 memukul rata-rata utilitas pabrikan ke level 40 persen. Hal tersebut utamanya disebabkan oleh anjloknya permintaan air minum dalam kemasan gelas. 

"Seluruh produsen [AMDK] produksi kemasan kecil [gelas]. Utilitas [industri AMDK] sudah naik lagi. Kemarin kami tertekan sampai [level] 40 persen, sekarang utilitas sudah 80 persen," kata Rachmat.

Rachmat menilai lonjakan utilitas tersebut setidaknya disebabkan oleh dua hal, yakni pelonggaran protokol pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan membaiknya permintaan AMDK galon. 

Jika dibandingkan dengan lini produksi lainnya, Rachmat menyampaikan produksi AMDK galon menunjukkan perbaikan yang paling pesat. Dengan demikian, lanjutnya, pabrikan akan menjadikan produksi AMDK galon sebagai lokomotif pertumbuhan produksi. 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

amdk Covid-19
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top