Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ada Negara Rakus Borong Komoditas, Ekonom: Waspada Inflasi Pangan!

Kondisi ekonomi China yang mulai pulih membuat negara ini memborong lebih banyak pasokan pangan. Alhasil, kondisi ini dapat memicu inflasi pangan. Pemerintah harus mengantisipasi hal ini.
Hadijah Alaydrus & Jaffry Prabu Prakoso
Hadijah Alaydrus & Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 06 Januari 2021  |  09:13 WIB
Pekerja menyortir kedelai yang baru tiba di gudang penyimpanan di Kawasan Kebayoran Lama, Jakarta, Rabu (19/2/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Pekerja menyortir kedelai yang baru tiba di gudang penyimpanan di Kawasan Kebayoran Lama, Jakarta, Rabu (19/2/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Harga kedelai impor di tingkat pengolah naik 3 persen hingga 5,5 persen.

Dari data Kementerian Perdagangan, harga pada Desember 2020 menjadi 9.300 per kilogram sampai 9.500 per kilogram dari 9.000 per kilogram pada bulan sebelumnya.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira menuturkan kondisi ini dipicu oleh pemulihan di China. Sektor pertanian, peternakan dan manufaktur China hampir kembali ke tahap normal sebelum pandemi.

"Pangan saja dia [China] borong, sementara efeknya inflasi pangan," ujar Bhima kepada Bisnis, Selasa (5/1/2021).

Bhima menegaskan fenomena China ini belum diantisipasi pemerintah. Sebenarnya bukan hanya tantangan di sektor pariwisata dan kesehatan yang perlu diatasi, tetapi juga sektor pangan.

"Ada negara yang rakus, salah satunya China," lanjutnya.

Ketika China memborong kedelai, produksi kedelai di Brasil dan Argentina belum sepenuhnya pulih. Hal ini mendorong kelangkaan kedelai sehingga pada akhirnya menaikkan harga.

Bhima mengingatkan agar pemerintah mewaspadi harga-harga kebutuhan pangan impor lainnya, seperti gula.

Dia melihat inflasi naik ini 0,4 persen dipicu dari sisi permintaan dari pasokan volatile food. Sementara itu, inflasi inti masih rendah yang artinya daya beli belum sepenuhnya pulih.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Setianto mengatakan bahwa harga tahu mentah pada Desember mengalami inflasi sebesar 0,06 persen, sedangkan tempe inflasi 0,05 persen.

“Namun demikian, dua komoditas tersebut memberi andil yang sangat kecil terhadap inflasi nasional,” katanya melalui konferensi pers secara virtual, Senin (4/1/2020).


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi china pangan kedelai
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top