Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Serapan Ruang Perkantoran 2021 Lebih Baik, Tapi Tetap Rendah

Penyerapan ruang perkantoran di Jakarta dan Surabaya tahun ini diprediksi lebih baik pada tahun ini meskipun masih tetap terbilang rendah.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 06 Januari 2021  |  20:02 WIB
Karyawan melakukan aktivitas di pusat perkantoran, kawasan SCBD, Jakarta./Antara - Muhammad Adimaja
Karyawan melakukan aktivitas di pusat perkantoran, kawasan SCBD, Jakarta./Antara - Muhammad Adimaja

Bisnis.com, JAKARTA – Konsultan properti Colliers International memproyeksikan sektor perkantoran di Jakarta dan Surabaya lebih baik dari sisi penyerapan tahun ini meskipun tingkat hunian masih terbilang rendah.

Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto mengatakan tingkat hunian perkantoran diproyeksikan masih terbilang rendah tahun ini karena belum adanya keseimbangan antara supply dan demand.

Di Jakarta, proyeksi tambahan proyek baru pada 2021–2024 turun drastis. Tambahan pasok baru perkantoran pada 2021–2024 diperkirakan sekitar 93.000 m2 dengan hampir 60 persen di kawasan pusat bisnis (central business district/CBD).

"Di CBD proyeksi tambahan pasok pada 2021 hingga 2024 hanya 138.839 m2 atau hanya 40 persen dibandingkan dengan 2017–2020 yang mencapai 357.361 m2," ujarnya dalam media briefing virtual pada Rabu (6/1/2021).

Di luar CBD, rerata proyeksi tambahan pasok baru juga lebih rendah bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Rerata pasokan perkantoran di luar CBD pada 2017–2020 mencapai 145.456 m2. Namun, pada rentang 2021 sampai 2024, diprediksi turun sekitar 93.161 m2.

"Jadi, itu sudah lebih dari separuhnya berkurang, dan ini sebenarnya merupakan indikator yang bagus, karena kita semua tahu bahwa sektor perkantoran ini oversupply dalam beberapa tahun terakhir," kata Ferry.

Menurutnya, beberapa proyek yang masih dalam perencanaan akan melihat sentimen pasar dulu, tidak akan memulai konstruksi sebelum mendapatkan komitmen penyewa.

"Gedung-gedung yang saat ini sudah hampir dalam tahap penyelesaian, juga akan segera dirampungkan. Artinya memang sulit bagi mereka untuk tidak menyelesaikan sesuai schedule-nya," ucap Ferry.

Hal itu dikarenakan adanya sedikit penurunan pada tingkat kepercayaan para pengembang, mengingat kondisi pandemi Covid-19 yang masih berlangsung hingga saat ini.

Oleh karena itu, dia memproyeksikan kemungkinan dari sisi supply pada 2021–2022, sektor perkantoran di Jakarta tidak akan ada perubahan. Namun, untuk 2023–2024 kondisi suplai sektor perkantoran di Jakarta diperkirakan masih sangat mungkin berubah.

"Kita tidak tahu kalau ternyata pada 2022 kondisi pandemi sudah baik lagi, sehingga gedung-gedung yang tadinya direncanakan rampung di 2023–2024 bisa dikebut tahun tersebut," tuturnya.

Tingkat Hunian Membaik

Dari sisi tingkat hunian, lanjut Ferry, dengan pasok baru yang terbatas, tingkat serapan hunian diperkirakan membaik pada 2023 - 2024. Hal itu dikarenakan, meskipun permintaan akan perkantoran meningkat, tambahan pasok baru dari beberapa proyek yang akan selesai terus memberikan tekanan pada tingkat hunian.

"Selain itu, evaluasi kinerja working from home terus dilakukan sehingga reduksi penggunaan ruang kantor akan mungkin terus berlangsung," ujarnya.

Dari sisi harga sewa, tarif perkantoran akan terus kompetitif. Besarnya reduksi tarif sewa akan tergantung luas ruang yang diambil.

"Untuk harga jual dipengaruhi kinerja pasar sewa. Namun pasok yang terbatas, dapat mengangkat tingkat penjualan dan memperbaiki harga jual," kata Ferry.

Sementara itu, untuk perkantoran di Surabaya akan ada tambahan pasok baru pada 2021 yakni empat gedung dengan luas 160.000 m2. "Untuk beberapa proyek lainnya masih dalam perencanaan, menunggu kondisi pasar."

Dari sisi tingkat hunian masih mengalami tekanan tahun ini dikarenakan komitmen untuk menempati gedung pada 2021 dan 2022 sangat rendah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perkantoran bisnis properti
Editor : M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top