Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Faisal Basri Usul Pengumpulan Dana Pariwisata Khusus untuk Bali

Usulan tersebut dikemukakan karena ekonomi Bali saat ini sangat tergantung dengan sektor pariwisata.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 03 Januari 2021  |  21:16 WIB
Pakar Ekonomi Faisal Basri memberikan paparan dalam diskusi bertajuk Roadmap Pengembangan Kendaraan Listrik di Indonesia, di kantor pusat PLN, Jakarta, Selasa (10/7/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan
Pakar Ekonomi Faisal Basri memberikan paparan dalam diskusi bertajuk Roadmap Pengembangan Kendaraan Listrik di Indonesia, di kantor pusat PLN, Jakarta, Selasa (10/7/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Ekonom senior dari Universitas Indonesia, Faisal Basri, mengusulkan pemerintah mencetuskan pengumpulan dana pariwisata khusus untuk Bali. 

Dana darurat, katanya, bisa dipakai seandainya terjadi situasi luar biasa, misalnya wabah pandemi Covid-19 yang memukul pelaku usaha di sektor pariwisata.

“Saya usulkan beberapa waktu lalu di International Tourism Outlook di Bali, ada tourism fund. Kita tabung dalam satu fund untuk dipakai tatkala sedang kesusahan,” ujar Faisal, dikutip dari Tempo.co, Minggu (3/1/ 2021).

Menurutnya, dana tersebut dapat dimanfaatkan untuk membantu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk bertahan di tengah gempuran krisis. Pelaku UMKM umumnya tidak memiliki akses pendanaan dibandingkan dengan hotel dan restoran yang memiliki jejaring internasional.

Faisal menambahkan ekonomi Bali saat ini sangat tergantung dengan sektor pariwisata. Selain mengusulkan pengumpulan dana, ia meminta pemerintah memperlakukan sektor wisata di Pulau Dewata secara khusus. Misalnya, terkait kebijakan lama waktu karantina bagi turis asing.

Ia juga menyinggung pembukaan gelembung perjalanan atau travel bubble Bali, salah satunya dengan Singapura.

Travel bubble ini harus didukung karena Bali kan separuh ekonominya bergantung pada tourism. Kalau Bali berhasil, skema travel bubble bisa dikembangkan ke NTB,” ucapnya.

Praktik travel bubble, menurut Faisal, lazim dilakukan di negara-negara terdampak pandemi. Dia mencontohkan China yang telah menjalin kesepakatan dengan Korea Selatan untuk membuka gelembung perjalanan.

Selain itu, Selandia Baru telah mempersiapkan pembukaan travel bubble dengan Australia asal tidak ada peningkatan wabah yang signifikan pada kuartal I 2021.

Travel bubble adalah pembukaan zona batas lintas negara yang memungkinkan warganya bepergian asalkan tidak melampaui area yang sudah ditetapkan.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno telah mengisyaratkan Pulau Bali akan menjadi lokasi pertama dibukanya travel bubble. Tetapi sebagai persiapan, dia mengusulkan 70 persen warga Pulau Dewata dipriortiaskan menerima vaksin Covid-19.

“[Penduduk] Bali total ada 4 juta. Kalau kita dahulukan di Bali bisa 70 persen divaksin, ini akan jadi seperti New Zealand yang sudah bisa dikunci,” ujar Sandiaga.

Jika travel bubble dilaksanakan, Sandiaga menyatakan harus ada ketentuan khusus guna mencegah penyebaran Covid-19. Misalnya, adanya syarat dokumen tes usap atau swab PCR yang menunjukkan hasil negatif Covid-19 bagi wisatawan mencanegara yang masuk ke Bali.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bali pariwisata faisal basri

Sumber : Tempo.co

Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top