Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Vaksin Pfizer Masuk, Industri Rantai Pendingin Belum Siap

Industri rantai pendingin nasional menyatakan belum dapat memproduksi rantai pendingin dengan suhu penyimpanan minus 70 derajat Celcius. Namun demikian, pelaku industri rantai pendingin berkomitmen untuk menyediakan fasilitas tersebut jika dibutuhkan.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 30 Desember 2020  |  17:21 WIB
Vaksin Covid-19 buatan Sinovac yang tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Minggu malam, 6 Desember 2020. - Istimewa
Vaksin Covid-19 buatan Sinovac yang tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Minggu malam, 6 Desember 2020. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Industri rantai pendingin nasional menyatakan belum dapat memproduksi rantai pendingin dengan suhu penyimpanan minus 70 derajat Celcius. Namun demikian, pelaku industri rantai pendingin berkomitmen untuk menyediakan fasilitas tersebut jika dibutuhkan.

Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI) menyatakan hanya ada dua rantai pendingin dengan kapasitas suhu di bawah 70 derajat Celcius, yakni di Bitung, Sulawesi Utara dan Makassar, Sulawesi Selatan. Namun demikian, dua fasilitas tersebut dinilai tidak bisa dialihgunakan untuk menyimpan vaksin.

"[Kedua rantai pendingin tersebut] dikhususkan untuk ekspor sashimi dari Indonesia ke Jepang dengan ukuran, kalau tidak salah, 10 ton," kata Ketua Umum ARPI Hasanuddin Yasni kepada Bisnis, Rabu (30/12/2020).

Walakin, pihaknya siap menjadi memastikan ketersediaan rantai pendingin dengan suhu penyimpanan minus 70 derajat Celcius dengan lead time sekitar 1-2 bulan. Pasalnya, pabrikan rantai pendingin nasional masih bergantung pada impor untuk pemenuhan rantai pendingin tersebut.

Menurutnya, pabrikan rantai pendingin akan memesan fasilitas tersebut dari Thermo King Corporation dalam bentuk produk jadi (completely built unit/CBU). Namun demikian, Yasni optimistis pabrikan rantai pendingin nasional dapat memproduksi cool box dengan suhu penyimpanan minus 70 derajat Celcius.

"[Untuk produksi] cool box kami bisa tiru ketebalannya, akan tetapi untuk kompresor, kondensor, dan evaporator belum mampu. Sementara ini kami harus impor utuh semuanya," ucapnya.

Yasni menyatakan harga satu unit rantai pendingin dengan kemampuan penyimpanan minus 70 derajat Celcius lebih tinggi hingga dua kali lipat dari rantai pendingin biasa. Menurutnya, harga rantai pendingin tersebut dengan ukuran 20 feet mencapai Rp1,2 miliar, sedangkan ukuran 40 feet sekitar Rp2 miliar.

Di sisi lain, ketersediaan rantai pendinginan dengan kemampuan penyimpanan 2-8 derajat Celcius sudah mendekati level 100 persen.

Terpisah, Direktur Utama PT Bio Farma (Persero) Honesti Basyir mengatakan menyatakan sudah menyepakati adanya kontribusi vaksin besutan Pfizer Inc. pada program imunisasi Covid-19. Namun demikian, perseroan menilai tidak semua daerah bisa mendapatkan vaksin buatan Pfizer tersebut.

Seperti diketahui, vaksin buatan Pfizer merupakan salah satu vaksin messenger RNA (mRNA) pertama dengan efikasi di atas 90 persen. Namun demikian, persyaratan penyimpanan vaksin tersebut menjadi tantangan baru bagi Bio Farma lantaran suhu penyimpanan vaksin tersebut harus minus 70 derajat Celcius.

"Untuk program vaksinasi, model kerja samanya mereka akan meminjamkan storage khusus ke daerah yang butuh vaksinasi. Jadi, khusus [vaksin buatan Pfizer, kami harus selektif dan hati-hati memilih daerah yang siap," katanya.

Dengan kata lain, tidak seluruh daerah di dalam negeri akan mengonsumsi vaksin buatan Pfizer. Pada saat yang bersamaan, Honesti menilai keterbatasan sistem distribusi vaksin Bio Farma terhadap vaksin Pfizer menjadi tantangan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rantai pendingin vaksinasi Vaksin Covid-19
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top