Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kontraksi Ekonomi RI Lebih Baik di Antara G20, Srimul: Tak Boleh Terlena

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa sampai hari ini, kondisi Indonesia masih lebih baik dibandingkan anggota G20 maupun Asean.
Jaffry Prabu Prakoso
Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 16 Desember 2020  |  13:34 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan sambutan s3cara virtual saat acara Bisnis Indonesia Award di Jakarta, Senin (14/12/2020). Bisnis - Abdurachman
Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan sambutan s3cara virtual saat acara Bisnis Indonesia Award di Jakarta, Senin (14/12/2020). Bisnis - Abdurachman

Bisnis.com, JAKARTA - Pandemi Covid-19 diyakini membuat ekonomi hampir seluruh negara mengalami keterpurukan. Resesi pun tidak bisa dihindari.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa sampai hari ini, kondisi Indonesia masih lebih baik dibandingkan anggota G20 maupun Asean.

“Kalau dari kinerja ekonomi dibandingkan instrumen fiskal yang kita miliki, Indonesia lebih baik. Meski ini tidak membuat kita harus merasa sudah lewat dari masa kritis,” katanya saat sambutan melalui diskusi virtual, Rabu (16/12/2020).

Sri menjelaskan bahwa dilihat dari fiskal dan dampak Covid-19 terhadap ekonomi, Tanah Air menunjukkan defisit anggaran penerimaan dan belanja negara (APBN) lebih kecil dan kontraksi pertumbuhan yang lebih rendah.

Kondisi ini perlu dipelajari dan dipertahankan saat kondisi masih belum pasti. Bahkan tambah Sri, hal yang perlu diakselerasi harus disegerakan.

“Kalau ada kebijakan pemulihan ekonomi yang belum disempurnakan harus disempurnakan. Sambil Covid-19 terus dijaga dari sisi pencegahan dari penyebarannya,” jelasnya.

Sementara itu, APBN menjadi instrumen yang luar biasa dan strategis.

Sri menuturkan bahwa awalnya fiskal dan belanja pada 2020 memasuki optimisme karena bakal lebih baik dari tahun sebelumnya.

Akan tetapi Covid-19 datang dan membuat pemerintah melakukan perombakan.

APBN diubah dua kali. Defisit yang tadinya hanya 1,76 persen direvisi menjadi 6,34 persen.

Angka tersebut diakui Sri relatif lebih kecil apabila dibandingkan negara G20. Begitu pula dari sisi pertumbuhan ekonomi.

“Kita tidak boleh terlena karena magnitude defisit ini jelas butuh perhatian yang lebih tinggi bagi kita untuk menjaga kaesehatan APBN di tahun-tahun mendatang,” ucapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

g20 sri mulyani defisit anggaran ekonomi indonesia
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top