Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Travel Bubble Hong Kong-Singapura Ditunda Hingga Tahun Depan

Baik Hong Kong maupun Singapura mengatakan akan meninjau pengaturan untuk tahun 2021 hingga akhir Desember 2020.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 01 Desember 2020  |  15:21 WIB
Pejalan kaki di Hong Kong - Bloomberg
Pejalan kaki di Hong Kong - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Setelah sebelumnya ditunda karena meningkatnya kasus virus corona, gelembung perjalanan atau travel bubble antara Hong Kong dan Singapura dinyatakan tak akan terjadi pada tahun ini.

Travel bubble ditunda lebih lanjut setelah 2020. Baik Hong Kong maupun Singapura mengatakan akan meninjau pengaturan untuk tahun 2021 hingga akhir Desember 2020.

Pakta yang memungkinkan penumpang untuk melakukan perjalanan antar dua negara tanpa karantina itu, telah ditunda dua minggu pada 21 November, sehari sebelum penerbangan akan dimulai.

Meskipun wabah virus di dua negara jauh lebih tidak intens daripada di tempat-tempat seperti AS dan Eropa, peningkatan kasus baru-baru ini di Hong Kong terbukti cukup untuk menghentikan rencana tersebut.

Penundaan tersebut menunjukkan betapa rumitnya proses pembukaan kembali perbatasan bahkan untuk tempat-tempat yang sebagian besar telah mengatasi pandemi virus corona. Travel bubble itu digembar-gemborkan akan menjadi yang pertama selama masa pandemi ini.

"Keputusan itu diambil mengingat parahnya situasi pandemi di Hong Kong dengan jumlah kasus lokal yang tidak diketahui sumbernya meningkat pesat," kata pemerintah Hong Kong dalam sebuah pernyataan, dilansir Bloomberg, Selasa (1/12/2020).

Ditutupnya perbatasan secara ketat telah membantu Asia menahan laju kasus virus corona lebih baik daripada di bagian lain dunia. Negara-negara dari China hingga Selandia Baru membatasi masuknya pelancong dan memberlakukan karantina wajib sebagai cara menghentikan infeksi virus di gerbang masuk negara.

Namun pendekatan itu telah menimbulkan biaya yang besar, menghancurkan pariwisata dengan perjalanan lintas batas yang lumpuh total.

Sejauh ini upaya penanganan kasus virus di dalam negeri telah menghasilkan 10 rute perjalanan udara domestik tersibuk di dunia yang kini semuanya ada di Asia. Namun demikian, menurut OAG Aviation Worldwide Ltd., Cathay Pacific Airways Ltd. milik Hong Kong dan Singapore Airlines Ltd. terus berjuang karena tidak memiliki rute domestik dan sepenuhnya bergantung pada perjalanan internasional. Saham kedua maskapai ini telah turun sekitar 30 persen tahun ini.

Meningkatnya kasus di Hong Kong atau Singapura selalu menjadi risiko bagi mereka yang memesan tiket saat bubble plan diumumkan pada 11 November lalu. Masih memungkinkan untuk melakukan perjalanan antara kedua kota, tetapi karantina wajib berlaku di kedua negara.

Setelah jeda panjang dengan hanya beberapa kasus sehari, situasi yang memburuk di Hong Kong mendorong pemerintah untuk memberlakukan aturan jarak sosial yang lebih ketat dan kembali menutup sekolah. Kota itu melaporkan 76 infeksi baru, Senin 30 November 2020.

Singapura dan Hong Kong berharap kesepakatan itu bisa menjadi model bagi negara lain yang mencoba perbatasannya. Lalu lintas udara secara global diperkirakan hanya 33 persen dari level 2019 pada akhir tahun ini, dan diharapkan dapat mencapai 50 persen hingga 60 persen pada akhir 2021.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

singapura hong kong
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top