Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

China Percaya Diri Lampaui AS Jadi Pasar Barang Konsumen Terbesar

Baru-baru ini, Lian Weiliang, Wakil Ketua Badan Perencanaan Ekonomi China telah memperkuat visi tersebut sebagai bagian dari strategi kemandirian negara, yang akan diterapkan dalam rencana pembangunan 2021-2025 dan visi 2035.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 01 Desember 2020  |  16:45 WIB
Suasana Pasar Induk Xinfadi di Distrik Fengtai, Beijing, China, pada sore hari 19 Juli 2019.  - ANTARA
Suasana Pasar Induk Xinfadi di Distrik Fengtai, Beijing, China, pada sore hari 19 Juli 2019. - ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA - China terus menyatakan keyakinannya bahwa pasar barang konsumen domestiknya akan segera melampaui Amerika Serikat untuk menjadi yang terbesar di dunia. Di masa lalu, pihak berwenang China jarang membuat perbandingan seperti itu karena takut memicu pembalasan yang sengit dan tekanan dari Washington.

Namun baru-baru ini, Lian Weiliang, Wakil Ketua Badan Perencanaan Ekonomi China telah memperkuat visi tersebut sebagai bagian dari strategi kemandirian negara, yang akan diterapkan dalam rencana pembangunan 2021-2025 dan visi 2035.

"Penjualan ritel China untuk pertama kalinya melampaui 40 triliun yuan pada 2019, meningkat lebih dari 42 persen dari 2015. Ini akan segera menyusul Amerika Serikat untuk menjadi pasar barang konsumen teratas," kata Lian dilansir South China Morning Post, Selasa (1/12/2020).

Menurut Biro Statistik Nasional, penjualan ritel China mencapai 41,2 triliun yuan (US$ 6,2 triliun) tahun lalu. Sedangkan, data dari Biro Sensus AS menunjukkan penjualan ritel di negara itu mencapai US$ 6,2 triliun pada 2019.

Lian mengatakan China yang sudah memiliki populasi berpenghasilan menengah terbesar di dunia, juga meraup untung dari nilai tambah manufaktur paling jumbo, memiliki pengguna internet terbanyak, serta 500 perusahaan teratas.

Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional bertanggung jawab untuk menyusun rencana lima tahun, dengan rincian sejumlah langkah wajib dan antisipatif yang diharapkan akan diumumkan pada Maret tahun depan di Kongres Rakyat Nasional.

Otoritas China telah lama menaruh harapan pada kemampuan pasar domestik yang besar untuk terus menarik investor asing. Dengan demikian China dapat mengimbangi upaya tekanan dari AS, karena pembuat kebijakan berusaha menemukan pendorong pertumbuhan baru dengan berfokus pada pasar domestik dan teknologi yang dikembangkan di dalam negeri.

Target China yang baru-baru ini diumumkan untuk menggandakan produk domestik bruto nasionalnya pada 2035 sudah menyiratkan bahwa negara itu akan melampaui AS dalam 15 tahun ke depan. Meskipun dokumen resmi yang diterbitkan bulan lalu tidak menawarkan perbandingan yang spesifik.

Ekonomi China tumbuh 4,9 persen pada kuartal ketiga tahun ini, meningkat dari kenaikan 3,2 persen pada kuartal kedua dan penurunan 6,8 persen pada kuartal pertama.

Sementara itu, penjualan ritel tumbuh 4,3 persen pada Oktober, dibandingkan dengan penurunan 20,5 persen dalam angka gabungan untuk Januari dan Februari.

Dana Moneter Internasional atau IMF memperkirakan ekonomi China tumbuh 1,9 persen tahun ini, sementara ekonomi AS akan menyusut 4,3 persen.

Wang, mantan Wakil Direktur Pusat Riset Pengembangan Dewan Negara, mengatakan pasar konsumen China kemungkinan akan menyusul AS tahun ini. Namun dia memperingatkan bahwa konsumsi domestik masih dibayangi oleh virus corona, utang rumah tangga yang tinggi, dan kesenjangan pendapatan yang semakin lebar.

Virus corona menyerang kelompok berpenghasilan rendah dan pemilik usaha kecil lebih keras daripada keluarga berpenghasilan menengah dan tinggi. Sementara meningkatnya utang rumah tangga, yang sebagian besar berasal dari investasi properti, telah mengurangi kemampuan konsumsi.

Han Yongwen, Wakil Direktur Jenderal Pusat Pertukaran Ekonomi Internasional China, mengatakan pemerintah harus berkonsentrasi pada perluasan populasi berpenghasilan menengah selama lima tahun ke depan. Selain itu juga mencoba meningkatkan proporsi masyarakat berpenghasilan menengah menjadi sekitar 40 persen dari populasi, atau 600 juta orang, dari level saat ini 29 persen.

"Jika itu bisa dilakukan, akan ada dorongan besar untuk konsumsi China dan potensi pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi global china amerika serikat
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top