Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

China Terapkan Bea Antidumping untuk Wine Australia hingga 212,1 Persen

Kementerian Perdagangan China mengatakan deposit antidumping akan mulai berlaku 28 November dan berkisar dari 107,1 persen hingga 212,1 persen.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 27 November 2020  |  11:02 WIB
Anggur merah - Istimewa
Anggur merah - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - China akan memberlakukan bea antidumping lebih dari 100 persen pada anggur Australia mulai akhir pekan ini. Keputusan ini sebagai tanda terbaru dari memburuknya ketegangan perdagangan antara kedua negara.

Kementerian Perdagangan China mengatakan deposit antidumping akan mulai berlaku 28 November dan berkisar dari 107,1 persen hingga 212,1 persen.

Bea masuk tersebut datang hanya tiga bulan setelah China memulai penyelidikan antidumping dan antisubsidi terhadap anggur Australia, dan mengikuti serangkaian tindakan lain yang melarang impor dari batu bara, tembaga hingga gandum-ganduman tahun ini.

Pengusaha wine Australia mengaku belum melihat rancangan aturan tersebut. "Kami tidak yakin ada kasus yang harus dijawab, jadi tanpa melihat detailnya, jelas mengecewakan," kata Tony Battaglene, Kepala Eksekutif Grup Industri Anggur dan Wine Australia, dikutip dari Bloomberg.

Saham Treasury Wine Estates turun lebih dari 11 persen setelah berita ini. Anak perusahaan Treasury Wine Estates, Vintners, dikenakan bea hingga 169,3 persen, menurut pernyataan Kementerian Perdagangan China.

Kedua negara telah mengalami kebuntuan sejak 2018, ketika Canberra melarang Huawei Technologies Co. membangun jaringan 5G-nya. Yang menambah keruh hubungan keduanya adalah seruan Perdana Menteri Scott Morrison untuk menyelidiki asal-usul wabah virus Corona, sebuah langkah yang melukai kebanggaan China dan memicu semburan kritik bahwa Australia adalah boneka AS.

Morrison minggu ini berusaha untuk melepaskan beberapa tekanan, memberikan pidato yang memuji China karena telah menarik rakyatnya keluar dari kemiskinan.

Australia, katanya, menginginkan hubungan yang saling menguntungkan dan bersikeras bahwa pemerintahnya tidak berpihak pada AS untuk menahan China. Kementerian Luar Negeri di Beijing mencatat komentar positif terkait dengan hal ini.

Australia adalah ekonomi maju yang paling bergantung pada China di dunia. Australia tidak akan dapat mengekspor produk termasuk batu bara, barley, bijih tembaga dan konsentrat, gula, kayu, anggur, dan lobster, menurut sumber anonim Bloomberg.

Anggur Australia telah menumpuk di negara itu setelah China mengumumkan dua penyelidikan perdagangan awal tahun ini. Lebih dari 50 kapal yang membawa lebih dari US$500 juta batu bara Australia juga telah terdampar di dekat pelabuhan China karena pertikaian diplomatik ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china australia wine

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top