Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sri Mulyani Sebut Risiko Shortfall Pajak Masih Terbuka

Tren pertumbuhan penerimaan pajak yang terus memburuk berpotensi membebani pemerintah pada tahun depan. Pasalnya, jika penerimaan pajak shortfall alias meleset dari outlook, upaya konsolidasi fiskal terancam buyar.
Edi Suwiknyo
Edi Suwiknyo - Bisnis.com 19 November 2020  |  15:03 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan sambutan saat peluncuran progam penjaminan pemerintah kepada padat karya dalam rangka percepatan pemulihan ekonomi nasional di Jakarta, Rabu (29/7 - 2020). Bisnis
Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan sambutan saat peluncuran progam penjaminan pemerintah kepada padat karya dalam rangka percepatan pemulihan ekonomi nasional di Jakarta, Rabu (29/7 - 2020). Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah kembali mengungkapkan bahwa kinerja penerimaan pajak tahun 2020 berpotensi meleset dari outlook APBN 2020.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa risiko shortfall dari outlook penerimaan pajak itu terjadi karena kondisi dari korporasi maupun masyarakat yang betul-betul tertekan.

"Penerimaan pajak yang rendah terjadi karena memang mengalami kontraksi dan ini pun masih ada risiko tidak tercapai," kata Sri Mulyani, Kamis (19/11/2020).

Adapun, penerimaan pajak sampai September 2020 mencapai Rp750,62 triliun atau 62,61 persen dari target penerimaan pajak tahun 2020 sebesar Rp1.198,8 triliun. Artinya hingga akhir tahun nanti, pemerintah harus mengejar target penerimaan pajak sebesar Rp448,18 triliun.

Dalam catatan Bisnis, tren pertumbuhan penerimaan pajak yang terus memburuk berpotensi membebani pemerintah pada tahun depan. Pasalnya, jika penerimaan pajak shortfall alias meleset dari outlook, upaya konsolidasi fiskal terancam buyar. Defisit bisa kembali melebar dari kebutuhan utang makin meningkat.

Sebagai catatan, realisasi penerimaan pajak tahun 2020 diproyeksikan sebesar Rp1.198,82 triliun atau minus 10 persen dari realisasi tahun 2019 yang senilai Rp1.332,06 triliun. Dengan tren pertumbuhan penerimaan pajak pada 2020 yang sampai September 2020 minus 16,86 persen, kemungkinan penerimaan pajak bakal meleset dari target.

Beberapa lembaga dan pengamat perpajakan telah mengeluarkan outlook penerimaan pajak 2020. Menariknya angka paling optimis adalah minus 12 persen, sementara yang pesimistis di kisaran minus 14 persen.

Dua skenario itu sama-sama punya konsekuensi kepada kinerja anggaran. Pasalnya jika keduanya terjadi, realisasi penerimaan pajak hanya akan berada di angka Rp1.172,2 triliun – Rp1.145,5 triliun. Itu artinya pertumbuhan penerimaan pajak tahun depan berpotensi membengkak di kisaran 4,8 persen - 7,3 persen.

Sri Mulyani menambahkan akibat rendahnya penerimaan pajak membuat defisit APBN 2020 di angka 6,34 persen dari produk domestik bruto (PDB). "Namun tahun depan diperkirakan lebih rendah dari tahun ini sebagai suatu langkah awal konsolidasi fiskal," jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sri mulyani shortfall penerimaan pajak
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top