Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Industri Material Diminta Antisipasi Pembangunan Masif 2021

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat memastikan proyek pembangunan pada tahun depan lebih masif setelah pandemi menghantam sektor konstruksi. Untuk itu, industri rantai pasok atau penyedia bahan bangunan berpeluang menggeliat.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 19 November 2020  |  17:10 WIB
Salah satu proyek properti TOD LRT City yang dikmbangkan oleh PT Adhi Commuter Properti  -  Antara
Salah satu proyek properti TOD LRT City yang dikmbangkan oleh PT Adhi Commuter Properti - Antara

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat memastikan proyek pembangunan pada tahun depan lebih masif setelah pandemi menghantam sektor konstruksi. Untuk itu, industri rantai pasok atau penyedia bahan bangunan berpeluang menggeliat.

Direktur Jenderal Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR) Trisasongko Widianto mengatakan seperti sektor lainnya, konstruksi juga mulai mnegalami kontraksi sejak kuartal I/2020 dengan pertumbuhan 2,9 persen lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu 5,9 persen.

Untuk itu, saat ini Kementerian PUPR telah membuat skema protokol kesehatan pencegahan Covid-19 dalam penyelenggaraan jasa konstruksi. Di antaranya menghentikan sementara pekerjaan jika terindikasi ada tenaga kerja yang terpapar Covid-19 dan bekerjasama dengan Puskesmas dan RS setempat.

"Setelah 9 sektor dibuka kembali sejumlah proyek telah dimulai dan akan dilanjutkan hingga 2021 dengan anggaran yang naik atau mencapai Rp150 triliun. Pembangunan akan lebih masif dari tahun ini sehingga menjadi peluang untuk industri rantai pasok," katanya dalam Webinar Infrastructure Connect, Kamis (19/11/2020).

Trisasongko mengemukakan adapaun sejumlah proyek yang akan dikembangkan di antaranya food estate di Sumatera Utara dan Kalimantan Tengah, serta Kawasan Industri di Subang dan Batang.

Dia pun memastikan startegi utama pembangunan akan sejalan dengan industri yang tengah berjuang mengurangi konten impor dengan memaksimalkan penggunaan bahan bangunan lokal. Menurutnya, salah satu bahan bangunan yang akan didongkrak dengan kembalinya pembangunan adalah semen.

Sementara akibat penundaan sejumlah proyek tahun ini, Kementerian PUPR mencatat permintaan semen menjadi turun 41 persen pada tahun ini.

"Bahan bangunan lainnya juga menjadi anjlok seperti beton yang kebutuhannya saat ini 30 persen dari kebutuhan semen. Sementara tahun depan kebutuhan semen dipastikan naik hingga 7,28 juta ton dengan 6,7 juta ton khusus ibu kota baru," ujar Trisasongko.

Sementara itu, Kementerian PUPR juga terus akan menindaklanjuti rekomendasi pemakaian semen ramah lingkungan untuk proyek infrastruktur guna mendukung penurunan emisi CO2 di industri semen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

proyek konstruksi material
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top