Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

PT Garam Pacu Produksi Garam Premium Hingga 2022

Direktur Utama Garam Achmad Ardianto mengatakan pihaknya akan meningkatkan kapasitas produksi garam premium dari 50 persen dari total produksi menjadi 75 persen. Adapun, lanjutnya, PT Garam menargetkan hanya akan memproduksi garam premium pada 2022.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 17 November 2020  |  04:36 WIB
Pekerja tampak beraktivitas di sentra produksi PT Garam (Persero)  - Dok. PT Garam
Pekerja tampak beraktivitas di sentra produksi PT Garam (Persero) - Dok. PT Garam

Bisnis.com, JAKARTA - PT Garam (Persero) akan meningkatkan kapasitas produksi garam premium pada 2021. Adapun, strategi tersebut akan terus dilakukan hingga akhir 2022.

Direktur Utama Garam Achmad Ardianto mengatakan pihaknya akan meningkatkan kapasitas produksi garam premium dari sebelumnya 50 persen dari total produksi menjadi 75 persen. Adapun, lanjutnya, PT Garam menargetkan hanya akan memproduksi garam premium pada 2022.

"Kami bisa menghasilkan kualitas garam [oleh industri] farmasi yang diharapkan, tapi belum konsisten. Itu yang mau kami perbaiki," ucapnya kepada Bisnis, Senin (16/11/2020).

Adapun, garam premium yang dimaksud adalah garam yang memiliki kadar Natrium Klorida (NaCl) di atas 97 persen. Seperti diketahui, persyaratan kualitas garam oleh industri farmasi adalah 99,99 persen.

Ardianto mencatat kapasitas produksi PT Garam mencapai 500.000 ton per tahun. Dengan kata lain, 20 persen dari hasil produksi garam rakyat dapat diserap oleh sektor manufaktur pada 2022.

Setelah dapat seluruhnya memproduksi garam premium, lanjutnya, PT Garam akan menurunkan keahlian dan teknologi tersebut kepada petani rakyat lainnya. "Kalau sudah konsisten premium, PT Garam bisa membantu petani garam. Tapi, kalau PT Garam belum bisa internal [memproduksi penuh garam premium], bagaimana kita bisa bantu [petani garam produksi garam premium]," ucapnya.

Namun demikian, Ardianto menekankan PT Garam akan tetap mendukung petani garam secara paralel dengan perbaikan proses produksi perseroan. Namun demikian, dukungan yang dapat diberikan saat ini cukup terbatas.

Ardianto menyatakan keterbatasan tersebut disebabkan oleh berubahnya status PT Garam menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Alhasil, otoritas independen yang dimiliki perseroan pun diatur oleh negara. "Pembelian garam dan pembinaan [saat ini] hanya didasarkan pada project based, tapi secara permanen tidak ada," ucapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

garam pt garam (persero)
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top