Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Impor Jagung, Kedelai, dan Gandum Capai Jutaan Ton Selama Pandemi

Sejauh ini, impor gandum dikenai tarif sebesar 0 persen, tepung dari gandum dikenai bea impor 5 persen, tapioka 10 persen, dan kedelai dikenai tarif 0 persen.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 17 November 2020  |  15:26 WIB
Ilustrasi panen jagung
Ilustrasi panen jagung

Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah komoditas pangan utama masih mendominasi aktivitas impor produk pertanian selama pandemi.

Kementerian Pertanian melaporkan impor jagung, kedelai, dan gandum mencapai 14,6 juta ton sepanjang Januari-September 2020. 

“Impor produk pertanian segar terbesar berasal dari tanaman pangan yang mencapai 52 persen dari total impor, sementara olahan disumbang produk peternakan dan perkebunan,” kata Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Momon Rusmono dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi IV DPR RI, Selasa (17/11/2020).

Secara spesifik, Momon mengemukakan impor pangan strategis selama Januari-September 2020 sejatinya mengalami penurunan, yakni untuk jagung yang turun dari 1,07 juta ton pada tahun sebelumnya menjadi 911.194 ton dan impor singkong dari 281.646 ton menjadi 136.889 ton.

“Jagung diimpor sebagian besar sebagai pemanis untuk bahan baku industri sedangkan untuk ubi kayu diimpor guna kebutuhan tapioka,” lanjutnya.

Selain itu, impor gandum tercatat turun dari 8,37 juta ton selama Januari-September 2019 menjadi 8,00 juta ton pada periode yang sama tahun ini. Kenaikan pangan strategis terjadi pada kedelai dari 5,12 juta ton menjadi 5,71 juta ton. Bawang putih pun naik dari 261.721 ton menjadi 381.775 ton.

Mengingat masih tingginya impor sejumlah pangan strategis, Momon lantas menyampaikan sejumlah usulan kebijakan pengendalian impor demi menjaga produksi di dalam negeri dan untuk menjaga kesejahteraan petani.

Untuk impor kedelai, tapioka dan gandum yang cenderung masih tinggi, dia mengusulkan agar komoditas-komoditas tersebut masuk dalam kelompok barang yang dilarang atau dibatasi (lartas) importasinya.

Lebih lanjut, tata niaga tanaman pangan pun diusulkan hanya diatur dalam satu peraturan menteri dengan pengaturan impor melalui satu pintu kementerian atau lembaga.

Selanjutnya, Kementan mengusulkan izin importasi pangan dapat diputuskan melalui rapat koordinasi terbatas yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

Momon juga mengusulkan peninjauan kembali tarif impor untuk komoditas pangan strategis seperti gandum, ubi kayu, dan memberlakukan bea masuk untuk kedelai. Para importir gandum diharapkan dapat mensubstitusi 5 persen bahan bakunya dengan produk lokal secara bertahap.

Sejauh ini, impor gandum dikenai tarif sebesar 0 persen, tepung dari gandum dikenai bea impor 5 persen, tapioka 10 persen, dan kedelai dikenai tarif 0 persen.

“Dalam rangka melindungi petani dan produksi di dalam negeri kami usulkan ada kebijakan seperti di atas. Misal untuk importir kedelai memberi bantuan kepada petani kedelai sebagai kompensasi impornya,” kata Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ketahanan pangan impor jagung impor kedelai
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top