Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penjualan Hunian Kuartal IV Diprediksi Tak Bergerak Signifikan

Pasar properti subsektor hunian sepanjang kuartal terakhir tahun ini diprediksi tak bergerak signifikan dibandingkan dengan kinerja pada kuartal III.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 16 November 2020  |  18:16 WIB
Ilustrasi proyek pembangunan perumahan. - Bisnis.com
Ilustrasi proyek pembangunan perumahan. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Tinggal 1,5 bulan menuju penghujung akhir 2020. Tahun ini menjadi tahun yang berat bagi sektor properti khususnya properti hunian residensial. Kondisi penjualan properti hunian pada kuartal IV diperkirakan tak jauh berbeda dengan kuartal sebelumnya.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Realestat Indonesia (REI) Paulus Totok Lusida menuturkan kondisi penjualan pada kuartal IV belum begitu pulih seperti sebelum terjadi pandemi. Menurutnya, kondisi penjualan properti hunian pada kuartal IV ini akan sama seperti kuartal sebelumnya.

"Pada kuartal IV, kondisi penjualan properti hunian masih sama seperti kuartal sebelumnya. Pada kuartal ini ada penurunan untuk pasar secondary market hunian, ada penurunan harga, sehingga berpengaruh juga pada penjualan," ujarnya kepada Bisnis pada Senin (16/11/2020).

Kondisi hunian di pasar sekunder tengah tertekan akibat turunnya harga dan minat pembelian. Totok menuturkan saat ini pasar properti hunian hanya ditopang pada rumah seharga Rp500 juta hingga Rp1,5 miliar. Pasalnya, untuk rumah tipe kecil atau rumah sederhana juga mengalami penurunan pembelian akibat daya beli yang tertekan.

"Untuk rumah sederhana memang daya beli konsumen masih terganggu akibat gaji yang dipotong dan adanya pemutusan hubungan kerja (PHK)," ungkapnya.

Oleh karena itu, dia berharap aturan UU Cipta Kerja yang baru saja dikeluarkan ini benar-benar efektif dalam menggerakkan sektor properti.

"Kami berharap peraturan pemerintah yang merupakan turunan Omnibus Law [UU Cipta Kerja] ini dapat benar-benar mampu bisa menggerakan properti Tanah Air," ucap Totok.

Managing Director Strategic Business & Services Sinar Mas Land Alim Gunadi mengemukakan untuk prospek penjualan kuartal IV, perusahaan melihat masih ada permintaan pembelian hunian.

"Kami optimistis pada kuartal IV ini masih ada permintaan pembelian rumah. Kami juga masih melakukan launching produk baru untuk rumah," kata Alim.

Direktur PT Ciputra Development Tbk. Harun Hajadi mengatakan pihaknya optimistis penjualan rumah pada kuartal IV hingga akhir tahun ini dapat mencapai yang ditargetkan.

Namun demikian, hingga akhir tahun ini memang pertumbuhan properti tak akan sebesar pada tahun lalu sebelum pandemi Covid-19. Hal itu dikarenakan kondisi properti pada kuartal II mati suri.

"Dengan pandemi yang belum berakhir, memang untuk membeli properti belum diutamakan saat ini karena keadaan belum pulih sehingga masih menahan untuk membeli rumah," kata Harun.

Commercial and Business Development Director AKR Land Alvin Andronicus menuturkan pada kuartal IV perusahaan masih optimistis untuk mencapai realisasi target pembelian rumah sebesar 80 persen dari target tahun ini.

"Kami tetap kejar di kuartal IV untuk dapat mendukung aktivitaa perusahaan agar cash flow yang mumpuni," ucapnya.

Menurutnya, untuk menarik pembelian properti memang diberikan diskon pembayaran. Namun demikian, adanya diskon pembayaran ini berdampak pada penurunan revenue.

Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch Ali Tranghanda berpendapat pada kuartal IV ini pola pergerakan belum stabil dan masih dimungkinkan adanya penurunan. "Namun, juga kemungkinan pola pergerakan naik relatif lebih besar," ujarnya.

Kondisi daya beli semakin menurun yang menyebabkan kinerja bisnis rumah menengah bawah menurun. Di segmen atas relatif masih mempunyai daya beli cukup meskipun tetap ada indikasi penurunan harga rata-rata transaksi ke harga yang lebih rendah dan sebagian tetap menunda pembelian.

"Di segmen menengah semakin lama juga semakin turun ke segmen bawah. Tapi golongan menengah ini termasuk golongan tanggung, karena mereka mungkin tidak tertarik untuk membeli rumah subsidi, tetapi ke atas pun mereka tidak punya daya beli lebih," kata Ali.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bisnis properti perumahan
Editor : M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top