Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

RCEP Diproyeksi Sumbang PDB hingga 5 Persen

Pemerintah mengklaim proyeksi tersebut semakin realistis karena keterlibatan Indonesia di sektor-sektor komoditas lain juga kian terbuka.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 16 November 2020  |  09:50 WIB
Suasana bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam
Suasana bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Kontribusi Regional Comprehensive Economics Partnership (RCEP) di kisaran 5 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai realistis. 

Menurut Juru Bicara Kementerian Perdagangan (Kemendag) Fithra Faisal Hastiadi, proyeksi tersebut didasarkan kepada perhitungan bahwa sektor-sektor utama komoditas seperti crude palm oil (CPO), makanan dan minuman, tekstil, dan perkayuan diprediksi tinggi pasca RCEP.

"Target kontribusi RCEP ke PDB lebih tinggi dari proyeksi 0,05 persen menjadi sekitar 5 persen realistis. Dasar perhitungannya, sektor utama seperti CPO, makanan dan minuman, tekstil, serta perkayuan, diprediksi bakal tinggi ekspor setelah RCEP," ujar Fithra kepada Bisnis.com, Minggu (15/11/2020).

Fitrhra melanjutkan, proyeksi tersebut semakin realistis karena keterlibatan Indonesia di sektor-sektor komoditas lain juga kian terbuka. Pasalnya, RCEP tidak hanya membuka akses pasar, tetapi juga peluang masuknya bahan impor untuk diproses sebelum diekspor kembali.

Sementara untuk masalah pembiayaan aktivitas ekspor yang masih dinilai belum maksimal oleh pelaku usaha, disebut hanya tinggal menunggu waktu sebelum kemudian diintensifikasikan guna mendorong ekspor.

Komitmen pemerintah dalam mendorong ekspor setelah RCEP, jelasnya, diperkirakan menarik bank-bank himbara menjadi lebih terlibat dalam pembiayaan aktivitas ekspor.

Selain itu, perusahaan-perusahaan di bawah naungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sudah mulai fokus ke aktivitas ekspor. 

"Perbankan dan BUMN, sudah punya target untuk melakukan pembiayaan terkait dengan aktivitas ekspor dan impor," lanjutnya.

Selain itu, Kemendag mulai menyusun strategi percepatan ekspor-impor dan berencana terlibat lebih jauh di sisi jaringan rantai pasok.

Sebagai informasi, pembahasan kerja sama RCEP akan menyoroti sejumlah hal, di antaranya pengurangan hambatan nontarif, mendefinisikan perihal nontarif barrier, dan nontarif measure.

Kemudian, untuk lalu lintas tenaga kerja akan dibahas mengenai fasilitasi untuk pekerja temporary entry, dan temporary stay untuk hal-hal yang merujuk kepada aktivitas perdagangan barang dan jasa.

Di sisi investasi, terdapat pembahasan mengenai liberalisasi, promosi, fasilitasi investasi, serta upaya-upaya untuk mengurangi proteksi berlebihan.

Negara-negara anggota RCEP juga membahas perihal rules of origin, seperti ketentuan original atas barang dan custom procedures untuk menyederhanakan prosedur kepabeanan demi melancarkan aktivitas ekspor-impor.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perdagangan internasional rcep
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top