Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kemenperin Akui Kinerja Industri Pengolahan Ikan Kurang Greget

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan hingga saat ini kinerja pengolahan industri perikanan masih kurang bertaji kendati Indonesia memiliki peluang yang besar dan tercatat sebagai negara dengan produksi ikan terbesar kedua setelah China.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 12 November 2020  |  13:34 WIB
Gubernur Kaltara Irianto Lambrie saat meninjau salah satu industri pengelolaan hasil perikanan di Kaltara, belum lama ini. Pemerintah juga telah memiliki arah kebijakan pengembangan dan penguatan daya saing produk industri pengolahan ikan dengan prioritas pengembangan pada ikan tuna dan udang untuk periode 2020-2024.  - humasprovkaltara
Gubernur Kaltara Irianto Lambrie saat meninjau salah satu industri pengelolaan hasil perikanan di Kaltara, belum lama ini. Pemerintah juga telah memiliki arah kebijakan pengembangan dan penguatan daya saing produk industri pengolahan ikan dengan prioritas pengembangan pada ikan tuna dan udang untuk periode 2020-2024. - humasprovkaltara

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan hingga saat ini kinerja pengolahan industri perikanan masih kurang bertaji kendati Indonesia memiliki peluang yang besar dan tercatat sebagai negara dengan produksi ikan terbesar kedua setelah China.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih mengatakan data terbaru per 2018 produksi ikan di Indonesia sekitar 7,3 ton dengan 6,7 ton dari wilayah pengolahan perikanan (WPP) dan 0,6 juta ton dari perairan darat.

Dari segi konsumsi ikan, masyarakat di Indonesia juga masih setengah dari Jepang atau baru 50,7 kilogram per kapita per tahun. Angka itu juga menunjukkan ketertinggalan dari negara tetangga seperti Singapura, yang lautnya tidak banyak.

"Kalau kita lihat dari kinerja industri pengolahannya memang masih kurang greget. Utilisasi per 2019 di angka 51 persen naik setelah 2016 di level 47 persen. Tahun ini sebenarnya jika tidak ada pandemi kami ingin tingkatkan di level 65 persen," katanya dalam Webinar BUMN Pangan, Kamis (12/11/2020).

Gati mengemukakan pada tahun lalu ekspor dari industri ini tercatat US$4,1 miliar dan impor US$0,28 miliar dengan besaran produksi 1,4 juta ton. Sementara unit usaha industri pengolahan ikan saat ini ada 718, menengah 715, dan industri kecil sekitar 3.000 usaha.

Adapun, Gati mengindikasi permasalahn industri pengolahan ikan saat ini akibat pasokan bahan baku yang masih kurang akibat ikan lokal masih bersifat musiman sehingga jumlah terbatas. Belum lagi ketergantungan pada bahan penolong yang harus diimpor seperti STPP dan tin plate, serta biaya logistik yang mahal.

"Saat ini kapasitas produksi industri kita 2,7 juta ton dengan bahan baku terolah pada 2019 sekitar 1,4 juta ton dan tahun lalu masih tercatat kekurangan bahan baku 1,3 juta ton," ujar Gati.

Sisi lain, pemerintah juga telah memiliki arah kebijakan pengembangan dan penguatan daya saing produk industri pengolahan ikan dengan prioritas pengembangan pada ikan tuna dan udang untuk periode 2020-2024.

Pemerintah juga memiliki agenda jangka pendek, menengah, panjang guna meningkatkan kinerja industri pengolahan ikan saat ini. Namun, hal itu juga diharapkan dapat dilaksanakan bersama dengan stakeholder terkait utamanya BUMN pangan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

illegal fishing bahan baku pangan pengolahan ikan
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top